Minggu, 20 Januari 2013

Melesat Jalan raya Bukit Tinggi

Sinopsis Langit dan Bumi Sahabat Kami Selama tentara Sekutu berada dikota ku, dalam kekacauan ambil pemerintahan, bahan makanan hilang dari pasaran, keselaman itik dan ayam menjadi terancam. Beberapa hari binatang itu masih dilepas tetapi setelah kami perhatikan yang pulang kekandang semakin kurang. Kami tidak masuk sekolah dan ayah juga tidak kekantor. Dia beberapa kawannya menolak bekerja samaengan pemerintahan pendudukan. Kegiatan sehari-hari berpusat pencarian isi perut. Tangsi polisi disamping rumah telah rusak berantakan oleh montir, granat, dan kebakaran. Rumah kami bertambah umur tetapi teduh dan ramah. Memang keadaan tetap darurat, oleh mengurangnya bahan makanan, kucing-kucing juga menghilang diculik penduduk kampung. Burung-burung perkutut tidak ketinggalan menjadi alat pembayar bahan makanan. Pada waktu itulah aku menemukan cara mengutarakan isi hati yang lain dari pada berbicara, ialah menulis ketika pemerintahan kota diserahkan kepada tentara dan Administrasi Belanda. Sekolah-sekolah dibuka kembali. Seperti kata ayah, zaman terus bergerak buat lengkapi sejarah kota kami bagaikan barang rebutan, dari tangan seorang pindah ketangan yang lain, dari pemerintahan yang satu kepemerintahan yang lainnya.. Sejak pagi hari bapak dan kang marjo menyiapkan tempat persembunyian almari yang berisi barang-barang pecah belah berharga kepunyaan paman. Tetapi ketika ayah mengangkut brang-barang paman kerumah kami, bokor kuningan tersebut telah lenyap dari rak hiasan, dirampok orang atau tentara Jepang. Setelah berkali-kali kehilangan, ayah memastikan untuk menyembunyikan barang-barang lain yang sekiranya bisa menarik pandangan tentara pendudukan. Didapur terdapat dua lubang, satu berisi peti barang Kang Marjo dan istrinya ketika serdadu Inggris masuk dari pintu kebun Wetan Dalem kelatar, mereka mendengar suara bapak yang berada dikamar mandi ambil bertembang. Setelah berhenti beberapa lama waktu lamanya diruang makan, gerombolan itu sampai ditempat kami mereka mendekat. Bapak menerangkan, kuterka campuran bahasa asing dan Indonesia-Melayu. Agak lama kedua serdadu itu tinggal diruang tengah, pada waktu masing-msing berjongkok dikanan kiriku, aku menahan nafas. Bapak bicara dengan mereka, kelihatan ia menolak uang yang sudah dikeluarkan dari dompet. Kesukaran yang ku anggap paling besar adalah bagaimna membiasakan diri dengan makanan pemberian orang tua. Yang kami makan diaman itu semuanya bubuken, penuh ulat. Ibu mempunyai beberapa cara untuk memasaknya. Pagi hari, sarapan kami terdiri dari bubur kacang hijau atau nasi menir sisa kemarin malam, yng digorengkan dengan lauk apa saja yang ada. Pada suatu kesempatan bapak menukarkan dua ekor itik dengan berbagai keperluan:obat-obatan dan makanan, ketika telah dibuka, teciumlah bau gurrih manis dn sedap yang amat sedap. Dan tanpa menunggu-nunggu lagi aku mencoba salah sebuah gula-gula yang ada kaleng itu. Tiba-tiba musim menjadi kering, kering sekali. Semakin hari, bapak semakin prihatin. Bila kami keluar dari kamar, selalu berebutan pergi ke pendapa, sejak udara menjadi kering, bapak mengganti jadwal kegiatannya diwaktu pagi. Air dari sumur hanya dipergunakan sebagai diambil minuman dan memasak makanan. Sudah lama aku tidak mandi kesungai. Dipandang sepintas lalu, pekerjan yang paling sukar adalah bagaimana turun kesungai itu. Pengalaman itu tidak pernah lagi kami ulangi. Selain kami jarang disuruh ibu pergi ke Matan Maroto, juga karna sungai dibelakang rumah semakin hari semakin kotor. Sungai itu jauh lebih sempit dari pada sungai yang ada dibelakang rumah. Bagaikan keluarga besar dalam berbagai urusan sehari-hari, kami dan para pengungsi yang datang bergotong royong mengerjaka kepentingan bersama. Ketika pemerintahan kota diambil oleh tentara Belanda, bapak mengatakan kekhawatirn bahwa perang akan berlangsung lebih lama. Banyak orang yang tak mengerti apa itu kegembiraan dan kebahagiaan. Oleh bergeraknya zaman, berubahnya jumlah penduduk serta cara hidupnya, padang ilalang dibelakang rumah kami juga berubah, lalu sekolahpun dibukapun dibuka. Aku menemukan kembali beberapa kawan seperti dulu. Hari pertama aku sekolah, pulangnya menerima baju yang diambilkanibu dari pusat palang merah dijalan Bojong, karna kami bersekolah, dipagi hari kebun itu dibiarkan tampa penjagaan. Ada empat pohon sawa, keempatnya berbuah lebat. Orang tuaku merasa tidak sanggup untuk memetik semua rezeki itu . mengikuti nasehat pak sayur, dua pohon akan ditebaskan yang berarti akan diborongkan kepada orang yang mau memetik sendiri dengan syarat bahwa pohon tidak akan dirusak, buah-buah yang muda tidak ikut dipetik. Orang yang memanjat pohon turun dan harga dirundingkan lagi. Kemudian bapak memanggilnya untuk menebang beberapa pohn pisang yang telah tua. Beberpa hari kemudian, sepen kami penuh dengan keranjang-keranjang sekapan dan wajah ibu cerah, suaanya ringan. Untuk keesokan kalinya, ibu memperingatkan anak-anak agar selalu mencintai dan menghormati bumi dan tuhan penciptanya. Kemakmuran bagaikan merangkuh kembali kehidupan raknyat kota kami, sekolah tetap lancar. Mata pelajaran ditambah bahasa Belanda. Dirumah, kesibukan ku kembali bertambah. Ayam-ayam kembali berkeliaran dilator, antara rumah induk dan bangunan belakang, atau dibiarkan keluar ke kebun. Ketika binatang-binatang kecil itu lahir, aku menungguinya, kambing kami mati karna tak tertolong melahirkan anak yang sangsang didalm perut. Aku sangat sedih mendengar kisah ibu. Seperti biasa aku tidak bisa menahan mengalirnya air mata. Selama beberapa pekan dimataku terbayang muka kambing kami yang lucu. Sejak pintu perbatasan kota dibuka, sejak semua kegiatan berlangsung kembali untuk kebutuhan hidup, ayah tidak kekantor. Bapak juga sering mendapatkan kunjungan kenalan kami yang tinggal di Batanmiroto, aku merasa tidak bisa menahan rasa ingin tahuku menyaksikan kunjungan yang serba rahasia itu. Suatu petang aku pulang dari belajar mengaji di Kembang Paes. Petang itu kami turun dari rumah guru setengh tujuh. Hari cepat menjadi malam. Keesokan hari pagi-pagi buta, simbok pergi kepondok Mak Yah, tukang pijat. Semua alih dan alasan yang dibikin-bikin itu, bapaklah yang sudah menentukan. Akhirnya tiga hari berlalu dengan cepat. Paman berangkat siang sebelum asar, disaat petani-petani penjual sayur dan hasil ladang pulang keluar kota. Bapak memenuhi permintaan teguh, membangun panggung tempat burung dara di Wetan Dalem. Teguh dengan burung daranya mengisi padat kenaganku akan kesejukan dan kenyamanan udara sore. Lalu, apabila dentang jam dinding mengingatkan kami hari telah semakin larut, dia berkata lagi, “sudah satu jam mereka pergi. Malam itu malam bulan muda, langit bersih dan berbintang. Namun kali ibu tak memperhatikannya. Hatiku yang peka bisa menerka apa yang dipikirkannya. Ibu mengambil tasbih dari tempat tidur lain, lalu mendampingiku. Teguh malam itu aku tahu bahwa ibu tidak akan bercerita. Suara “tik, tik, tik” dari butir-butir pada rangkaian tasbih menagawaliku tertidur tampa kusadari. Keesokan harinya, dengan hati berat aku pergi kesekolah. Siang itu aku berkelana dari kamar kekamar dengan hati kosong. Siang itu kami makan bersama, kuperhatikan ayah sangat pucat. Hari itu juga aku mengethui dari Yu Saijem bahwa kakakku Nugroho sedang belajar bercumbu perempuan. Untuk selanjutnya, aku menjadi tempat penimbunan aduan maupun cerita hampir semua kejadian yang dialami Yu Saijem. Sejak beberapa waktu kerusakan akan berganti lagi, kunjungan Pak Puspo dan teman-teman ayah memberiku isyarat akan terjadinya sesuatu yang baru. Untuk selanjutnya, sore itu berlalu dengan cepat. Serah terima pemerintah kota tidak kuperhatikan. Pada suatu hari, seperti biasa pulang dari sekolah ku tidak kenbali kerumah, sampai Teguh menyusulku. Aku harus segera pulang Karena bapak akan segera dibawa kerumah sakit. Berita itu sangat mengejutkan. Tiba-tiba hatiku kosong, tubuhku lemas. Seolah-olah ada lubang yang menganga diperutku yang membikin ku berdebar kecemasan. Synopsis perahu kertas Kisah ini dimulai dengan Keenam, seorang remaja pria yang baru lulus SMA, yang selama enam tahun tinggal di Amsterdam bersama neneknya. Keenan memiliki bakat melukis yang sangat kuat, dan ia tidak punya cita-cita lain selain menjadi pelukis, tapi perjanjiannya dengan ayahnya memaksa ia meninggalkan Amsterdam dan kembali ke Indonesia untuk kuliah. Keenan diterima berkuliah di Bandung, di Fakultas Ekonomi. Di sisi lain, ada Kugy, cewek unik cenderung eksentrik, yang juga akan berkuliah di universitas yang sama dengan Keenan. Sejak kecil, Kugy menggila-gilai dongeng. Tak hanya koleksi dan punya taman bacaan, ia juga senang menulis dongeng. Cita-citanya hanya satu: ingin menjadi juru dongeng. Namun Kugy sadar bahwa penulis dongeng bukanlah profesi yang meyakinkan dan mudah diterima lingkungan. Tak ingin lepas dari dunia menulis, Kugy lantas meneruskan studinya di Fakultas Sastra. Kugy dan Keenan dipertemukan lewat pasangan Eko dan Noni. Eko adalah sepupu Keenan, sementara Noni adalah sahabat Kugy sejak kecil. Terkecuali Noni, mereka semua hijrah dari Jakarta, lalu berkuliah di universitas yang sama di Bandung.Mereka berempat akhirnya bersahabat karib. Lambat laun, Kugy dan Keenan, yang memang sudah saling mengagumi, mulai mengalami transformasi. Diam-diam, tanpa pernah berkesempatan untuk mengungkapkan, mereka saling jatuh cinta. Namun kondisi saat itu serba tidak memungkinkan. Kugy sudah punya kekasih, cowok mentereng bernama Joshua, alias Ojos (panggilan yang dengan semena-mena diciptakan oleh Kugy). Sementara Keenan saat itu dicomblangkan oleh Noni dan Eko dengan seorang kurator muda bernama Wanda. Persahabatan empat sekawan itu mulai merenggang. Kugy lantas menenggelamkan dirinya dalam kesibukan baru, yakni menjadi guru relawan di sekolah darurat bernama Sakola Alit. Di sanalah ia bertemu dengan Pilik, muridnya yang paling nakal. Pilik dan kawan-kawan berhasil ia taklukkan dengan cara menuliskan dongeng tentang kisah petualangan mereka sendiri, yang diberinya judul: Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Kugy menulis kisah tentang murid-muridnya itu hampir setiap hari dalam sebuah buku tulis, yang kelak ia berikan pada Keenan. Kedekatan Keenan dengan Wanda yang awalnya mulus pun mulai berubah. Keenan disadarkan dengan cara yang mengejutkan bahwa impian yang selama ini ia bangun harus kandas dalam semalam. Dengan hati hancur, Keenan meninggalkan kehidupannya di Bandung, dan juga keluarganya di Jakarta. Ia lalu pergi ke Ubud, tinggal di rumah sahabat ibunya, Pak Wayan. Masa-masa bersama keluarga Pak Wayan, yang semuanya merupakan seniman-seniman sohor di Bali, mulai mengobati luka hati Keenan pelan-pelan. Sosok yang paling berpengaruh dalam penyembuhannya adalah Luhde Laksmi, keponakan Pak Wayan. Keenan mulai bisa melukis lagi. Berbekalkan kisah-kisah Jenderal Pilik dan Pasukan Alit yang diberikan Kugy padanya, Keenan menciptakan lukisan serial yang menjadi terkenal dan diburu para kolektor. Kugy, yang juga sangat kehilangan sahabat-sahabatnya dan mulai kesepian di Bandung, menata ulang hidupnya. Ia lulus kuliah secepat mungkin dan langsung bekerja di sebuah biro iklan di Jakarta sebagai copywriter. Di sana, ia bertemu dengan Remigius, atasannya sekaligus sahabat abangnya. Kugy meniti karier dengan cara tak terduga-duga. Pemikirannya yang ajaib dan serba spontan membuat ia melejit menjadi orang yang diperhitungkan di kantor itu. Namun Remi melihat sesuatu yang lain. Ia menyukai Kugy bukan hanya karena ide-idenya, tapi juga semangat dan kualitas unik yang senantiasa terpancar dari Kugy. Dan akhirnya Remi harus mengakui bahwa ia mulai jatuh hati. Sebaliknya, ketulusan Remi juga akhirnya meluluhkan hati Kugy. Sayangnya, Keenan tidak bisa selamanya tinggal di Bali. Karena kondisi kesehatan ayahnya yang memburuk, Keenan terpaksa kembali ke Jakarta, menjalankan perusahaan keluarganya karena tidak punya pilihan lain. Pertemuan antara Kugy dan Keenan tidak terelakkan. Bahkan empat sekawan ini bertemu lagi. Semuanya dengan kondisi yang sudah berbeda. Dan kembali, hati mereka diuji. Kisah cinta dan persahabatan selama lima tahun ini pun berakhir dengan kejutan bagi semuanya. Akhirnya setiap hati hanya bisa kembali pasrah dalam aliran cinta yang mengalir entah ke mana. Seperti perahu kertas yang dihanyutkan di parit, di empang, di kali, di sungai, tapi selalu bermuara di tempat yang sama. Meski kadang pahit, sakit, dan meragu, tapi hati sesungguhnya selalu tahu. Diwarnai pergelutan idealisme, persahabatan, tawa, tangis, dan cinta, “Perahu Kertas” tak lain adalah kisah perjalanan hati yang kembali pulang menemukan rumahnya. Peradilan Rakyat Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum. "Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini." Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung. "Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?" Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?" "Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini." Pengacara muda itu tersenyum. "Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku." "Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu." Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa. "Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri." Pengacara tua itu meringis. "Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan." "Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!" Pengacara tua itu tertawa. "Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua. Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf. "Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini." Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang. "Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog." "Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya." "Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani. Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang. Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini." Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan. "Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya." "Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba. Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran. "Bagaimana Anda tahu?" Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu." Pengacara muda sekarang menarik napas panjang. "Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya." Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. "Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?" "Antara lain." "Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku." Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu. "Jadi langkahku sudah benar?" Orang tua itu kembali mengelus janggutnya. "Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?" "Tidak! Sama sekali tidak!" "Bukan juga karena uang?!" "Bukan!" "Lalu karena apa?" Pengacara muda itu tersenyum. "Karena aku akan membelanya." "Supaya dia menang?" "Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku." Pengacara tua termenung. "Apa jawabanku salah?" Orang tua itu menggeleng. "Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang." "Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan." "Tapi kamu akan menang." "Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang." "Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini." Pengacara muda itu tertawa kecil. "Itu pujian atau peringatan?" "Pujian." "Asal Anda jujur saja." "Aku jujur." "Betul?" "Betul!" Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi. "Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?" "Bukan! Kenapa mesti takut?!" "Mereka tidak mengancam kamu?" "Mengacam bagaimana?" "Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?" "Tidak." Pengacara tua itu terkejut. "Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?" "Tidak." "Wah! Itu tidak profesional!" Pengacara muda itu tertawa. "Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!" "Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?" Pengacara muda itu terdiam. "Bagaimana kalau dia sampai menang?" "Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!" "Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?" Pengacara muda itu tak menjawab. "Berarti ya!" "Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!" Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya. "Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok." "Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut." "Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?" "Betul." "Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang. Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional." Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan. "Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia." Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan. "Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional." "Tapi..." Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda. "Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam." Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik. "Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai." Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah. Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu. "Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" *** Oleh: Putu Wijaya Bibir Sepertinya kita pernah bersebelahan jiwa,” kata perempuan itu kepada laki-laki yang duduk berhadapan dengannya, hanya sepotong kayu imitasi yang dinamakan coffee table dan dua mug gemuk kopi hangat masih berasap menjembatani ruang antara mereka berdua dari kursinya masing-masing. “Atau setidaknya kita pernah yakin tentang hal itu.” Laki-laki itu mengangkat pandangannya dari merenungi asap-asap tipis yang keluar dari mug-nya dan menatap perempuan itu, ia menemukan dirinya merasa sangat asing. Ditariknya nafas dalam-dalam lalu menjawab, “Mungkin aku memang tidak penah mampu untuk mengerti kamu. Mungkin otakku yang bebal. Kata-katamu selalu saja asing bagi telingaku, namun selalu saja keluar dengan wajar dari bibirmu.” Dan bibir itu sangat manis bentuknya, namun tidak lagi menimbulkan rasa ingin. Ah, laki-laki itu menggelengkan kepalanya dengan heran. Ia merasa seperti orang mabuk, namun tidak tahu lagi karena apa dan dimana. Beberapa putaran musim yang lalu bukankah hanya bibir itu yang ada dalam ingatannya sepanjang pagi, siang dan malam, dan pagi lagi, tidak pernah berhenti melingkar-lingkarkan jerat di dalam kepalanya. Cara bibir itu bergerak saat bicara, sudut-sudutnya yang naik turun tergantung emosi pemiliknya, merekahnya ketika minum kopi dan mengintipkan gigi putih yang sangat cocok untuk iklan pasta gigi ketika mengigit sepotong kue. Bukankah bibir itu yang dikulumnya tanpa puas ketika gairah-gairah mereka memuncak di malam-malam penuh gelegak yang mereka reguk bersama-sama. Mengapa semuanya saat ini rasa-rasanya tidak pernah benar-benar terjadi tak dapat dimengerti oleh pikirannya yang biasanya jago mengkalkulasi rumusan-rumusan jual-beli, untung dan rugi. “Apa yang sudah terjadi?” Bibir itu bergerak turun seirama dengan ekspresi di wajahnya yang bebas jerawat, bebas komedo, bebas kerut-merut dan halus rupawan itu. Perempuan itu melihat bagaimana bekas suaminya menggelengkan kepala dengan cara yang sangat khas, seakan mencoba menebak sesuatu. Dan laki-laki itu memang sedang mencoba menebak apakah pertanyaan yang barusan keluar dari bibir itu adalah sebuah pertanyaan sungguhan ataukah jebakan seperti yang seringkali terjadi dalam pembicaraan mereka. “Sudah makan ya?” tanya bibir itu. “Sudah,” jawab laki-laki itu seraya mencoba mencium kemanisannya. “Kok nggak ngajak-ngajak?” Bibir itu menurun membentuk kurva setengah lingkaran dan lampu merah di kepala laki-laki itu mulai berkedip-kedip. “Lho, waktu aku telpon katamu kamu tidak suka masakan Itali dan kamu ada janji dengan teman-temanmu mau shopping. Jadi aku kira kamu pasti tidak mau ikut.” “Aku memang tidak suka, tapi kan kamu bisa menawarkannya kepadaku.” Hm, laki-laki itu garuk-garuk kepala. “Ya sudah, kalau kamu mau kita pergi makan berduaan saja sekarang. Mau kan?” “Jangan merubah pembicaraan! Kamu makan-makan dengan siapa-siapa saja tadi?” “Lho…ya dengan teman-teman kantor.” “Pasti ada dia!” Bibir itu melancip, tajam sekali, seperti pedang dan berkilau-kilau karena lipgloss-nya. Laki-laki itu tanpa sadar merasa bergidik. Kok jadi menakutkan sekali? “Dia siapa sih?” “Pura-pura tidak mengerti. Ya, dia. Siapa lagi? Pasti ada perempuan itu.” “Perempuan yang mana lagi?” “Wulan, yang janda cantik itu!” “Ya iyalah, bukan, maksudku bukan janda cantiknya, tapi memang iya Wulan ada, Angki juga, Jeffry juga, Asep juga, pokoknya semuanya. Aku sudah bilang akan makan dengan rekan-rekan kerjaku, iya kan?” “Sebal aku! Itu sebabnya kamu tidak mau aku ikut, supaya kamu bisa main mata dengan leluasa, iya kan?!?!” “Lho, lho… Apa-apaan sih kamu? Jangan cemburu yang tidak-tidak dong.” “Pasti! Makanya aku tidak diajak!” Jelas sekali tuduhan dan tudingan tersirat dari bibir itu. Maka malam itu kemudian menjadi malam yang sangat dingin, hampir-hampir membekukan, ciumannya pun membentur gunung batu yang menjulang tinggi dan menukik tajam di sudut-sudut dan lekuk-lekuk bibir itu. Maka, laki-laki itu kemudian berlatih untuk diam sejenak sebelum menjawab segala sesuatu yang keluar dari bibir itu, betapapun manis dan lembutnya terdengar di telinga, karena dua tambah dua tidak selalu menjadi empat dalam kalkulasi pemikiran otak yang terletak dua jengkal saja jauhnya dari bibir itu. Atau, bila ia tidak yakin pada jawabannya maka dia akan membisu seribu bahasa. “Apa yang sebenarnya terjadi?” Bibir itu kembali menyadarkannya dari kenangan yang sempat menyerempet ingatannya tadi. Laki-laki itu mengangkat bahu. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana menjawabnya, karena dia tidak pandai menyusun kalimat di depan bibir itu. Atau, lebih tepatnya dia takut mengucapkan lebih banyak kata-kata karena akan berarti lebih banyak lagi kesalahan yang dapat saja dilakukannya menurut logika bibir itu yang mengakibatkan bibir itu akan mengeluarkan lebih, lebih, lebih dan lebih banyak lagi hamburan kata-kata yang sangking terlampau banyak tidak dapat dicerna oleh otaknya dengan baik dan kepalanya kemudian akan menjadi seperti sebuah komputer yang cupu, tidak mampu memproses data lalu macet, hang. Kemudian ia jadi sering merasa mual, pening dan gelisah setiap melihat bibir itu. Entahlah, katanya perlahan, karena getar-getar bibir itu membuatnya tidak tega untuk berdiam diri lebih lama lagi. “Ehemm…” Laki-laki itu membersihkan tenggorokannya yang mendadak rasanya tercekat oleh serpihan-serpihan kerikil yang masuk entah dari mana. “Mungkin karena bibirmu,” katanya akhirnya, karena setelah berpikir begitu keras memang hanya itu saja yang terbayang-bayang di kepalanya. “Bibirku? Apa yang salah dengan bibirku! Aku pikir kamu menyukai bibirku! Memangnya bibirnya lebih indah dari bibirku?” “Bukan begitu maksudku.” “Jadi? Lebih seksi?” Lelaki itu menatap bibir bekas isterinya dan melihat, amboi…betapa manis sesungguhnya memang bibir itu dari jarak aman ini, ia tidak memiliki keinginan untuk lebih mendekat atau melakukan apapun dengan bibir itu, karena selalu saja ia mendapatkan dirinya dan harga dirinya kemudian terkapar di suatu tempat dan waktu yang membingungkan. “Bukan itu.” “Lebih pandai mencium?” “Bukan itu.” “Kamu hanya bisa bilang bukan itu, bukan itu, bukan itu, seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang! Apa sih maksudnya! Kenapa berbicara dengan kamu selalu saja membosankan!” “Maaf…” Bibir itu merapat. “Kenapa harus minta maaf? Kamu menyesal karena berselingkuh kan? Padahal kamu pernah berjanji bahwa kamu akan selalu mencintai aku, menghormati aku, tidak akan pernah menyakiti aku, dan katamu sendiri, tidak ada perempuan lain yang mampu mencintai kamu seperti aku mencintai kamu. Kenapa kamu justru ingkar janji! Kenapa justru memilih untuk bersama dia daripada aku?” Banyaknya pertanyaan yang meluncur sekaligus dari bibir itu membuat mantan suaminya merasa tegang sekali, bahkan lebih menegangkan daripada dimarahi oleh atasannya di kantor. Laki-laki itu merasa tidak memiliki jawaban yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan itu dan ia pun tidak dapat mendeteksi mana yang aman untuk dijawab dan mana yang adalah ranjau darat yang bila diinjak akan mengakibatkan ledakan yang dahsyat dan menghancurkannya berkeping-keping. Dasar pengecut! Dia memaki dirinya sendiri, karena dia sadar dia memang merasa sangat kecut sekali. Ah! Pusing jadinya. Dia memijat-mijat pelipis kirinya yang berdenyut-denyut. “Kamu kenapa sih? Selalu saja begitu kalau diajak bicara serius! Selalu pura-pura sakit kepala. Aku kan tidak menanyakan hal yang sulit atau terlampau mustahil untuk dijawab! Aku hanya ingin kamu jujur! JUJUR! Bukannya jadi pengecut terus, menghindar terus!” Dan kepala laki-laki itu semakin pusing jadinya, apalagi karena beberapa orang di meja sebelah mulai tertarik ikut mendengarkan percakapan mereka yang saat ini lebih mirip sebuah monolog dari bibir itu. Ada beberapa yang bahkan nampak sekali sangat tertarik dengan gerak-gerik bibir itu. Tidak dapat disalahkan, pikir laki-laki itu, dulupun dia merasa seperti itu, bahkan lebih terbius, lebih tergila-gila, dan rasa-rasanya tidak mungkin ada yang lebih lembut lagi dari bibir itu yang rasanya seperti gulali ketika disentuh, begitu enak untuk dinikmati, bagaimana mungkin bibir secantik itu bisa melukai seperti pedang, merobek-robek seperti cakar, dan menusuk-nusuk seperti sembilu? Tidak mungkin kan rasa-rasanya. Bibir seperti itu gunanya untuk tersenyum, menyejukkan hati. Mencium, mendebarkan sanubari. Menyapa, mengelus-elus kerinduan. Dan tertawa, membuat matahari bersinar lebih lembut saat siang terik. Itulah yang ingin sekali ditemukannya pada bibir itu. “Pelankan sedikit suaramu, kita ada di tempat umum.” “Aahhh,” bibir itu bergerak naik, tanggung, membentuk sebuah senyum sinis, “jadi kamu malu ya?’ bisikannya mengejek. “Kamu malu karena suaraku keras, begitu? Kalau berselingkuh itu tidak memalukan ya!” Suara yang keluar dari bibir itu berdentum keras sekali sangat mengejutkan, berbanyak kepala langsung menoleh ke meja mereka dan laki-laki itu menemukan dirinya menjadi pusat perhatian, mata-mata para perempuan mendelik dan beberapa laki-laki agak salah tingkah sementara yang sebagian malah tersenyum mencemooh. “Ssstt…” Serba salah laki-laki itu menengok ke kiri dan ke kanan. “Sebaiknya aku pergi saja karena ternyata kamu masih terlalu emosi.” “Bagus! Pergi saja sana! Melarikan diri. Ya. Kamu memang ahlinya! Selalu saja begini ini, tidak bertanggungjawab!” Bibir itu bergerak turun naik ke kiri dan ke kanan, dan di kepala laki-laki itu timbul pertanyaan, bagaimana mungkin dia pernah mencium bibir yang seperti itu di suatu masa yang rasanya sudah berabad-abad yang lampau? Bagaimana caranya bertahan tetap waras berhadapan dengan bibir itu selama lima tahun hidup pernikahan mereka? Saat bibir itu mencang-mencong di hadapannya dia tidak lagi mampu mencerna kata-kata yang mengucur begitu deras dari bibir itu. Dia bahkan tidak lagi dapat mendengar suara apapun! Secara naluriah, laki-laki itu menutup indera pendengarannya dan menyisakan visualisasi dari drama yang terjadi di depan matanya ini, sambil berpikir, kapan semuanya akan berakhir ya? Konsentrasinya pada bibir itu membuatnya mampu menangkap garis-garis halus di bibir itu, lekukan atasnya yang sensual dan sempurna, warna lembut lipstick yang masih melekat dengan sangat apik yang nampaknya tidak akan berguguran walau terguncang-guncang, juga sebuah dekik yang timbul tenggelam di sebelah kiri bibir itu, dan kekenyalan bibir itu yang begitu nyata, begitu elastisnya bibir itu sehingga tidak jadi masalah ditarik ke kiri atau ke kanan, mencong ke atas atau ke bawah, luarbiasa. Tapi, apakah bibir itu sendiri tidak pernah merasa lelah? Dalam hati laki-laki itu mempertanyakan. Kalau saja dia bisa bertanya langsung kepada bibir itu, apa yang dirasakannya saat dihempas-hempas begitu rupa oleh pemiliknya, satu saat ditarik ke sana dan dilain saat ke sini. Tiba-tiba saja dia merasa sangat, sangat, sangat, sangat kasihan kepada bibir itu. “Jawaaaaaab!” Tiba-tiba saja dinding pelindung anti-suaranya pecah berantakan. Bibir itu sekarang berguncang-guncang, laki-laki itu terkejut, apakah itu sebuah isakan? Dia merasa diterobos oleh rasa kasihan, yang sudah lama tidak mampir di hatinya. Saat itu dia merasa berhadapan bukan lagi dengan pedang, tapi gulali yang mulai meleleh karena dibiarkan terlalu lama di bawah matahari. Kasihan. “Sebaiknya kamu pulang, ayo aku antar.” Tiba-tiba saja dia menemukan dirinya bisa berbicara tegas, dan dengan takjub menemukan tidak ada perlawanan dari bibir itu maupun anggota-anggota tubuh yang lainnya. Digandengnya bekas isterinya ke luar dari tempat minum kopi itu. “Bibirmu,” kata lelaki itu sambil menatap jalan di depan kemudi, “itulah masalah kita.” “Tapi…” “Biarkan aku bicara dulu, bukankah kamu selalu berkata ingin ada jawaban? Boleh kan aku mencoba menjawab, dan kamu mencoba mendengarkan? Lagipula, aku kasihan dengan bibirmu, kalau dieksploitasi terus-menerus. Bibir itu perlu istirahat juga dan memberikan kesempatan kepada telinga untuk bisa mendengar suara lain selain suara-suara milikimu sendiri. Bisa kan?” Bibir itu bergerak seakan hendak melakukan sesuatu lalu tiba-tiba saja tidak jadi melakukannya. Kepala perempuan itu mengangguk, matanya beralih memandang jalan di depannya. “Jadi, boleh aku bicara?” Laki-laki itu menepikan mobil, jalan lengang, seakan memang seluruh semesta mempersiapkan tempat dan ruang untuk mereka saat itu. Atau lebih tepatnya, untuk laki-laki itu, saat ini. “Aku pernah mencintaimu. Kamu tahu itu. Bahwa aku sungguh-sungguh jatuh cinta dan mencintaimu ketika kita menikah. Ya, aku memang mencintai bibir itu, karena, bila di matamu aku bisa berkaca dan menemukan diriku, di bibirmu aku menemukan cinta, dan kegairahan. Di lekuk-lekuk senyummu ada semangat dan kekuatanku untuk meraih masa depan. Aku bahkan mau mempertaruhkan hidupku demi bibir itu, demi merekahnya senyum, dan derai tawa, yang membuat jantungku berdebar-debar melaju ditengah kemacetan jalan saat pulang kerja sehingga rasanya semakin tersiksa karena aku ingin sekali segera pulang agar dapat mengecup sudut-sudutnya.” “Lalu, mengapa…” Laki-laki itu memberi isyarat dengan tangannya, dan bekas isterinya menggigit bawah bibirnya, menahan diri. “Lalu mengapa kita bercerai?” Laki-laki itu menebak dengan tepat. Karena itu adalah pertanyaan yang sama yang diajukannya berulang-ulang kepada dirinya sendiri. Bekas isterinya mengangguk, bibirnya terbuka sedikit, dan matanya berkaca-kaca. “Ya, mengapa? Aku sendiri heran, mengapa semakin lama aku malah semakin menikmati jam-jam lemburku dan mengharapkan waktu-waktu kerja menjadi lebih panjang. Aku bahkan sering berharap terjebak saja terus di tengah-tengah kemacetan. Mengapa? Karena aku tidak lagi menemukan debaran-debaran jantung ketika berhadapan dengan bibirmu, yang aku dengar hanya bergodam-godam palu kecurigaan dan tuduhan yang pada mulanya aku tidak mengerti dari mana asalnya. Akhirnya, setiap kali aku memandangmu dan bibirmu mulai berbicara, yang aku rasakan adalah rasa mulas di perutku, bukan lagi seperti kupu-kupu yang naik turun tetapi lebih mirip sengatan sekawanan lebah yang menyerang lambungku, karena begitu bibirmu terbuka, bukan madu yang keluar namun begitu banyak dakwaan yang, pada mulanya, tidak berdasar.” Laki-laki itu menatap perempuan cantik di sampingnya. “Sungguh. Aku tidak pernah berniat mengkhianati, berselingkuh, tidak pernah selintaspun. Namun kemudian, aku berpikir, mengapa tidak? Mungkin dengan begitu kamu akan merasa puas, merasa menang, bahwa aku memang suami kalahan. Kuakui bahwa aku lelah dihukum untuk sebuah kesalahan yang tidak aku lakukan, dan godaan yang datang, yang pada awalnya sama sekali tidak punya arti, tidak punya peluang, menjadi sebuah jalan alternatif bagiku. Mungkin imanku yang tidak kuat, atau malam-malam kita yang terlalu banyak diisi dengan kebekuan. Atau dua-duanya. Yang pasti, aku jatuh. Aku mengaku kalah. Aku memang bersalah. Aku minta maaf. Namun nampaknya dosaku sudah terlampau besar. Aku tidak pernah menghendaki kita berpisah, kamu yang menginginkannya, dan aku tidak punya keberanian atau kemampuan untuk mempertahankan apa yang memang tidak kamu anggap perlu untuk dipertahankan lagi… Maafkan aku. Karena aku tidak mampu pulang, aku mencari kedamaian di bibir yang lain, dan aku sudah menemukannya. Aku memang pengecut. Bahkan tidak berani mengecup bibirmu saat aku sangat ingin melakukannya karena aku takut lidahku tidak mampu merasakan rasa yang lain selain rasa pahit” Laki-laki itu mengedipkan matanya, ada air yang membuat matanya berkaca-kaca. “Masih ingat? Dulu kau pernah bilang bibirku rasanya seperti es krim vanila dan lembut seperti gulali,” kata perempuan itu lirih, sebuah senyum rawan menggantung di bibirnya, manis sekaligus sangat pahit. Laki-laki itu mengangguk. Oh, masa-masa yang sangat indah di sebuah waktu yang berbeda dan begitu jauh. Ia menghela nafas dalam diam, betapa terlambatnya. “Kita sudah benar-benar gagal bukan?” perempuan itu berbisik. “Kita sudah pergi terlalu jauh dan kehilangan jalan pulang.” Perempuan itu menatap laki-laki itu dengan pandangan yang berbeda, “Seandainya aku lebih banyak mendengarkan?’’ “Aku akan lebih mudah berbicara.” “Kalau kau lebih mudah berbicara?” “Kau akan lebih mudah mendengarkan dan kita akan lebih mudah saling mengerti.” “Seandainya kita lebih mudah saling mengerti?” “Kita akan lebih banyak berciuman.” “Kalau kita lebih banyak berciuman?” “Kita akan lebih mudah bergandengan.” “Kalau kita lebih mudah bergandengan?” “Kita tidak akan pernah terlalu mudah untuk saling melepaskan.” Ah, ada sebutir bening jatuh diujung bibir itu, dan lelaki itu mengusapnya lembut dengan jari telunjuknya. Mereka sudah sampai di persimpangan tempat dia dan pemilik bibir manis itu harus berpisah. Tetapi sedetik saja pada saat ini, ingin sekali disimpannya tetes bening itu di dalam sakunya. Namun, ketika dirabanya sakunya itu, sudah penuh, terisi dengan cinta untuk sebuah bibir yang lain. Aku Bukan Ismail Gi, pulang. Bapak mau bicara. Hanya itu isi surat yang kuterima tadi pagi. Aku tak habis pikir mengapa Bapak tidak menelepon saja. Nomor ponsel dan nomor telepon Ibu kost-ku sudah ada di tangan Bapak. Namun begitulah Bapakku. Ia mengirim surat dengan kertas dan amplop kelas atas serta prangko kilat namun isinya hanya lima kata itu saja. Meski surat itu tanpa tanda tangannya, aku bisa mengenali tulisan Bapak yang khas. Tulisannya miring bersambung dan banyak hiasan di huruf G dan B besar. Benar-benar surat yang simpel namun juga mengusik hatiku. Apa gerangan yang mau dibicarakan? Ini agak sulit karena aku sedang mengemban tugas sebagai pembicara seminar yang akan dilaksanakan besok di kampus. Terbersit niatku untuk menunda kepulangan sampai tanggung jawabku itu selesai. Namun rasa penasaran yang sangat menyelimuti otakku sedemikian rupa. Tumben sekali Bapak berkomunikasi dengan cara seperti ini belum lagi isi pesannya yang benar-benar menyita perhatianku sepanjang hari ini. Apa yang akan dibicarakan Bapak? Tentang pernikahankah? Karena aku sudah termasuk telat untuk menikah dan begitu gencarnya Orangtua beserta adik-adikku membujukku untuk mencari belahan jiwa. Aku memutuskan untuk lanjut ke S2 jadi tidak ada waktu untuk menikah. Umurku 28 tahun dan aku memang kurang laku di mata kaum hawa walau banyak orang bilang wajahku termasuk lumayan. Tapi aku tetap merasa kurang, aku memang tidak pandai bersyukur. Yang paling kesal adalah adikku si Nuning. Dia sudah kebelet nikah namun tidak sampai hati melangkah mendahuluiku, jadilah ia menganggur di rumah. Kuliahnya sudah selesai dan belum punya pekerjaan. Aku merasa bersalah juga tapi aku akan menikah setelah selesai kuliah. Atau mungkin tentang warisan? Mungkin Bapak sedang sakit keras baru-baru ini dan merasa akan meninggalkan dunia fana ini sehingga merasa perlu membicarakan warisan hartanya yang melimpah. Ataukah Bapak jatuh miskin di luar sepengetahuanku lalu akan menyuruhku berhenti kuliah? Tapi toh meski selama ini ongkos kuliah ditransfer Bapak, aku merasa bisa terus sekolah dengan upah kerja part time atau dengan belajar lebih rajin agar dapat beasiswa. Aku bukan anak-anak yang mau menjadi benalu bagi Bapak. Yang terakhir ini agak kuragukan karena Bapak orang sukses dan terhormat. Akhirnya aku lelah berpikir yang tidak-tidak dan memutuskan mengepak koper sore ini lalu berangkat nanti malam. Kuhubungi teman-teman sesama panitia dan mereka semua pengertian. “Tidak masalah, aku penggantinya. Hati-hati nanti di jalan,” begitu kata salah satu temanku yang menjabat sebagai wakil ketua panitia. Setelah mengurus tiket yang agak bermasalah, akhirnya aku kembali terbang ke kota kelahiranku, Jogja. Meski sulit, aku berusaha menyingkirkan semua pikiran-pikiran aneh tentang apa yang akan dibicarakan Bapak. Keluargaku kaget melihatku pulang, kecuali Bapak. Rupanya beliau tidak memberitahu yang lain bahwa aku disuruhnya pulang. Tak apa, toh mereka semua senang aku pulang. Kulihat Bapak hanya diam saja menyambut kepulanganku. Wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang berpikir keras tentang suatu hal dan bayang-bayang keraguan muncul timbul tenggelam. Bapakku orang terhormat, bertitel kyai, punya banyak koneksi, kaya raya, dan disegani siapa pun yang mengenalnya. Semenjak aku diasuhnya sedari kecil, aku mengenalnya sebagai orang yang sangat taat beribadah dan selalu membangunkanku saat sepertiga malam untuk salat tahajud yang kemudian menjadi rutinitasku dalam keseharian. Ia bisa diasumsikan sebagaimana orang-orang melihat seorang manusia yang sempurna akhlak dan materi. Hampir-hampir orang lain berani bertaruh manusia macam itu bakal masuk surga. Di dunia sebagai orang baik dan rezeki dicukupi, apalagi di akhirat. Pendek kata, ia dianggap sukses di dunia dan akhirat. Ia pendakwah yang gigih. Banyak majelis-majelis mengharap kedatangannya untuk sekadar memberikan sambutan atau ceramah pendek. Saking dihormatinya, ia dimintai ‘doa’ oleh orang-orang yang datang dari luar kota. Bapakku tidak bisa menerima dan menganggap hal itu syirik. Ia bilang ia bukan dukun yang bisa dimintai hal-hal seperti itu. Aku setuju saja. Ia mengusir dengan halus tamu-tamunya saat itu. Bapak sangat pendiam. ‘Diam itu emas’ rupanya benar-benar menjadi prinsip hidupnya. Bapak hanya bicara bila benar-benar perlu jadi kebanyakan mulutnya hanya digunakan untuk tersenyum menanggapi perkataan orang lain. Begitu bangga dan bersyukurnya aku mempunyai Bapak seperti beliau. Karena setiba di rumah Bapak hanya diam saja, aku agak heran juga, jadi kutunggu dengan tidur yang lelap hingga tiba-tiba ia membangunkanku sepertiga malam untuk salat tahajud. Akhirnya kami shalat berjamaah sekidmat mungkin. Setelahnya Bapak menyalakan rokoknya dan mengepulkan keras-keras. Ia mengajakku bicara empat mata berhadap-hadapan. Darinya mengalir nasihat-nasihat kehidupan juga kisah-kisah para nabi. Ia berbicara panjang lebar dan tak ada hentinya kecuali mungkin aku menyelanya. Aku jadi jenuh dengan perkataannya yang panjang lebar dan tak biasa. Aku disuruhnya pulang hanya untuk mendengar celotehan yang sudah sering kudengar di masa kecil. Dengan agak kurang sopan aku menyela. “Pak, sebenarnya apa yang mau dibicarakan sampai saya harus pulang?” Bapak mengisap rokoknya dalam-dalam, seolah itu hisapan yang terakhir. Aku tidak mengeluh kali ini meski aku benci sekali asap rokok. “Apakah kamu percaya sama Bapak?” tanyanya. “Yah,” jawabku ragu, tidak mengerti apa maksud Bapak bertanya begitu. “Bapak tidak percaya kamu percaya sama Bapak” Aku jadi bingung, “Saya percaya Bapak.” Bapak terdiam agak lama dan menciptakan keheningan yang janggal di antara kami. Bapak hanya menatap kosong ke langit-langit rumah, membiarkan rokoknya memendek digerogoti ulat api di ujung. Hanya asap rokoknya yang bergerak kesana kemari di antara kami, seolah berusaha memancing komunikasi kami berdua. Lalu ia berkata tiba-tiba, tegas. “Bapak yakin kamu anak shaleh dan selalu ingat bahwa Tuhan itu ada.” Ia terbatuk karena asap rokoknya sendiri lalu melanjutkan, “Dua hari yang lalu Bapak bermimpi bertemu Tuhan.” Aku tersontak kaget. Pantatku jadi sakit karena terlompat. Mana mungkin? Pasti Bapak mengada-ngada. Mengalami mimpi bertemu Rasulullah saja sudah merupakan karunia luar biasa dan diperuntukkan hanya kepada hamba-hamba Allah yang tertentu, apalagi bertemu Tuhan. Apa wujudnya? Aku tak boleh bertanya demikian. Aku tidak percaya sedikit pun tapi aku diam saja. “Terus?” tanyaku. “Seperti halnya Nabi Ibrahim, Tuhan menyuruh Bapak menyembelih anak Bapak sendiri,” ujar Bapak tanpa ekspresi, memandang langit-langit. Untuk kedua kalinya aku terlonjak, “Astagfirullah! Apa nggak salah dengar?” Bapak mengangkat tangannya agar aku jangan menyela. “Pasti Tuhan sedang menguji keikhlasan Bapak dalam beribadah. Tuhan menguji sejauh mana Bapak bisa bersabar atas apa yang Tuhan minta. Bapak tidak bisa mengelak. Selama ini Bapak hidup tanpa hambatan yang berarti. Harta banyak, kedudukan terhormat, keluarga sejahtera. Rupanya tidak cukup hanya dibalas dengan ibadah dan rasa syukur kepada Tuhan. Bapak harus memenuhinya.” “Tapi Pak… bagaimana mungkin? Itu kan cuma mimpi,” kataku spontan. “Kamu percaya sama Bapak?” tanyanya. “Eh..ya..” Agak menyesal kukatakan ini. “Begitulah Tuhan menyampaikan kepadaku.” “Tapi bagaimana Bapak yakin Bapak mimpi begitu? Mungkin hanya halusinasi—” “Bukan, bukan halusinasi. Ini benar-benar mimpi. Maksudnya mimpi yang nyata.” “Saya kira mimpi itu ada tiga. Mimpi dari Allah, mimpi dari setan, dan mimpi biasa. Yang terakhir semacam tidur lelap karena kekenyangan. Tapi saya tidak tahu apakah Bapak bisa menentukan mimpi itu dari Tuhan atau dari setan.” Bapak tersinggung, ia mengencerkan tenggorokannya sambi berpaling dariku. “Le, Bapak yakin sekali mimpi ini dari Tuhan. Dari Allah. Seolah-olah malaikat Jibril masuk ke dalam mimpi Bapak lalu mengajak Bapak ke depan arsy Tuhan di langit ke tujuh. Maha Besar. Perjalanan yang panjang. Melelahkan tapi asyik. Mau kuceritakan?” Aku menggeleng lemah. Ini sudah kelewat batas. Tapi aku kaget hal-hal yang merusak aqidah seperti ini menyentuh Bapak. Aku takut tiba-tiba ia mengaku-ngaku diutus sebagai Nabi. Bisa jadi ia akan punya pengikut seperti halnya Ahmadiyah. Ini bisa menjadi aib keluarga dan aku bakal malu berat. Aku harus menyadarkan Bapak, apapun caranya. “Bapak yakin kalau Bapak disuruh nyembelih anak sendiri?” tanyaku takut-takut. Bapak mengangguk takzim. “Sebenarnya bisa saja Bapak memilih satu di antara adik-adikmu tapi adikmu perempuan semua. Bapak orangnya tidak tega melukai mahluk Tuhan yang namanya perempuan. Hanya kamu sendiri yang laki-laki. Lagipula kamulah yang Bapak rasa paling bisa menerima tugas ini dengan lapang dada. ” Lapang dada! Ah, aku masih ingin hidup seribu tahun lagi. Kuraba dadaku. Rasanya sesak dan perutku mulas sekali. “Tapi Pak…. Untuk apa Tuhan meminta hal seperti itu kepada mahluk ciptaan-Nya? Ini menyalahi Asma’ul Husna. Allah Maha Berdiri Sendiri. Allah tidak butuh sesuatu pada mahluknya. Manusialah yang selalu butuh Allah untuk bisa hidup meski mereka tidak pernah menyadarinya. Dan Bapak sendiri, aku juga—semua—hanya manusia biasa.” Bapak tertawa terkekeh-kekeh mendengar perkataanku. Aku merasa akan kalah. Dikepulkannya asap rokok menjadi lingkaran-lingkaran asap yang menawan. Perhatianku teralih namun sekejap kembali pada tempatnya. “Lalu bagaimana dengan Nabi Ibrahim? Mengapa Tuhan meminta hal seperti itu kepada Nabi-Nya? Itulah Ibadah. Perintah Allah. Dan Bapak pun menerima hal yang serupa.” Telingaku serasa terkulai. “Tapi Bapak bukan Nabi. Muhammad adalah Nabi terakhir,” kataku tegas. Bapak memperlihatkan mimik tersinggung lagi. Aku jadi malu di hadapannya, sedikit nyengir mau minta maaf. “Memang. Bapak bukan Nabi tapi hanya manusia biasa yang dikaruniai hidayah-Nya sehingga bisa seperti sekarang.” “Tapi mengapa Tuhan memberikan tugas itu kepada Bapak kalau Bapak manusia biasa, bukannya Nabi atau bahkan orang saleh?” “Kamu menilai Bapak bukan orang saleh?” tanya Bapakku agak keras lalu kemudian ia jadi salah tingkah begitu juga aku. “Apa kamu percaya selama ini Bapak beribadah bukan atas dasar riya? Tidak untuk menarik perhatian orang lain supaya jatuh hormat pada Bapak?” tanya Bapak. “Ya… tentu. Bapak orang saleh,” kataku mengalah. “Begitulah,” kata Bapak seraya mematikan rokoknya yang sudah pendek sekali, “Bapak mau melakukan tugas itu malam ini.” Jantungku berdegup dan bisa kurasakan wajahku memucat meski aku tidak bisa melihatnya. “Tunggu dulu! Bapak jangan bikin sensasi,” kataku marah. “Ini bukan sensasi. Ini misi Tuhan, dari Allah,” Bapak ikut marah Hilang sudah rasa hormatku pada Bapak. Rupanya sikap takabur sudah menggerogoti otak kanan Bapak sehingga penuh dengan khayalan seperti ini. “No…no…no… Aku masih ingin hidup,” elakku. “Ah, Tole… Kamu tidak akan mati. Bukankah Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang? Allah akan menggantikan dirimu dengan seekor kambing gemuk yang nanti kita jadikan gulai untuk dimakan sekeluarga.” “Kalau begitu beli saja kambing lalu sembelih, itu sama saja.” “Uh oh, tentu saja berbeda. Keikhlasanku diuji ketika detik-detik terakhir aku memutuskan urat-uratmumu. Saat pisau yang tajam bersentuhan dengan kulit lehermu. Kalau kambing sih, Bapak tidak punya kendala. Tinggal tebas, masak, makan. Itulah bedanya. Aku akan diuji apakah aku sanggup menyembelih anakku sendiri atas dasar perintah Tuhan. ” “Aku tidak ikhlas, Pak. Dalam kisah Nabi Ibrahim, putranya Ismail ikhlas untuk disembelih. Sedangkan aku tidak ikhlas. Berarti acara sembelihan Bapak jadi tidak afdhal dong. Lebih baik sudahi saja, jangan dilakukan. Saya mau tidur dulu, Pak.” Bapak menahanku. “Ha..ha…ha… Yang diuji itu Bapakmu ini, bukan kamu. Entah kamu ikhlas atau tidak Bapak peduli apa? Tuhan tidak menitipkan pesan apa pun untuk kamu. Bapak cuma minta kesediaanmu untuk Bapak sembelih.” “Oh… saya tidak bersedia,” kataku gemetar. “Bapak memaksa, Tole.” “Saya tidak mau.” “Harus. Kamu harus—.” “Tidak mau. Sadar, Pak, sadar…” “Dengar dulu—.” “Cukup!” “Ini ibadah.” “Salah, ini pembunuhan.” “Kamu jangan ngeyel.” “Wah, bukan gitu Pak. Saya cuma…” “Tapi Bapak harus melaksakannya” “Pak…” “Malam ini.” “Tidak! Saya tidak mau. Ini edan.” “Kita bakal dapat pahala, lho.” “Bapak sudah keblinger!” “Meski dengan kekerasan, kali ini.” “Aduh, jangan Pak! Gila!” Akhirnya sambil tersenyum tulus Bapak mengeluarkan pisau besar semacam parang dari balik sarungnya. Pisau itu sudah terasah tajam dan mengkilap menyilaukan mataku. Bapak berdiri, mengucapkan basmalah, dan bersiap-siap memegang leherku. Aku hampir lengah. “Sini kamu.” “Tiidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!” Tapi itu sudah berlalu satu tahun yang lalu. Keluarga dan tetanggaku menyelamatkanku tepat pada waktunya. Akhirnya Bapak dideportasi dari rumah dan diungsikan ke Rumah Sakit Jiwa. Aku sudah diwisuda, bekerja, menikah dan kini tinggal bersama ibuku yang kecewa berat Bapak jadi gila. Nuning juga sudah menikah dan tinggal di rumah suaminya. Untuk beberapa waktu, keluargaku menjadi bahan gunjingan di masyarakat. Meski demikian orang-orang yang dulu mengenal Bapak masih menaruh hormat pada keluargaku. Aku membayar mahal seorang psikiater profesional untuk mengawasinya namun laporan setiap bulannya tidak banyak mengalami kemajuan. Kata si psikiater, Bapak bersikap seperti orang normal bahkan kelewat saleh. Setiap sepertiga malam ia selalu shalat sampai subuh. Bapak masih selalu berpuasa Senin Kamis dan masih melantunkan ayat Al Quran dengan fasih. Juga mendakwahi setiap pasien di sana, mengajak-ajak dalam kebajikan, yang tentu saja takkan berhasil. Si psikiater curiga itu hanya akal-akalan agar dia dinyatakan sembuh namun niat untuk membunuhku masih ada. Aku jadi bimbang sendiri. Aku ragu jika Bapak tidak gila, menduga-duga mungkin mimpi itu benar dari Tuhan dan aku memang harus disembelihnya. Apakah ini berarti aku mengabaikan Tuhan? Jika Bapak memang benar bermimpi demikian dan mimpi itu memang dari Tuhan maka aku orang yang berdosa. Aku menjadi merasa bersalah pada Bapak. Sejenak timbul niat untuk memulangkan Bapak karena mungkin Bapak memang tidak gila. Tapi pastinya Ibu dan adik-adikku tidak akan menerimanya lagi. Mungkin trauma mengingat-ingat bagaimana Bapak mengejarku di jalanan dengan pisau besar terasah tajam dan mengkilat sambil bertakbir. Aku juga ragu mimpi Bapak tidak relevan untuk zaman sekarang. Lalu bagaimana dengan Ismail putra Ibrahim? Mengapa ia tidak ragu bahwa mimpi ayahnya dari Tuhan? Mengapa ia mau menerimanya begitu saja? Karena ia punya iman yang kuat. Ia percaya bahwa Tuhan itu ada. Ia percaya ayahnya selalu beribadah dengan ikhlas kepada Tuhan. Ia percaya mimpi ayahnya itu tidak salah. Ia percaya bukan karena ia bodoh tapi karena imannya yang terang benderang. Sungguh aku merasa menjadi manusia paling berdosa dan tak punya iman sama sekali. Dan hal penting kedua ialah ia ikhlas untuk disembelih. Bagaimanapun juga, orang-orang zaman sekarang takkan bisa menerima. Siapapun itu. Yang jelas, aku bukan Ismail. Resensi Judul : Pemikiran Pramoedya Ananta Toer Dalam Novel- Novel Mutakhirnya Penulis : Koh Young Hoon Penerbit: Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lumpur, 1996 Tebal : XXII + 219 halaman Peresensi Wisman Tesis tentang “Watak Kekuasaan Orde Soeharto Selama Orde Baru”. Di Indonesia nama Pramoedya Ananta Toer selalu mengundang kontroversi. Berkali-kali ia “dibenamkan” dalam kehidupan penjara, tapi justru lahir sejumlah karya gemilang. Penjara jaman Orde Lama dan Orde Baru dienyamnya berkali-kali. Terakhir penderitaannya di tempat pembuangan biadab yang dibentuk bangsanya sendiri di Pulau Buru selama 10 tahun (1969-1979), dibalasnya dengan cara yang sangat beradab: menerbitkan sejumlah karya berkelas “sastra Nobel”. Begitu lah barangkali cara Pram mengajarkan kebajikan kepada bangsa yang turut dibentuknya pada 1945. Siapa kah Pram sesungguhnya? Benar kah ia sejenis hantu, seperti halnya ajaran Komunisme, yang perlu dipelihara dan dilanggengkan oleh penguasa Orde Baru sebagai “musuh bangsa”? Benarkah Pram cuma orang yang ditakdirkan untuk selalu jadi “kurban” politik penguasa, baik Orde Lama mau pun Orde Baru? Siapa sebenarnya dia? Bagaimana pikiran- pikirannya? Bagaimana ia meracik tulisan-tulisannya yang kini telah diterjemahkan lebih dari 24 bahasa? Pram adalah sebuah fenomena anomali dalam bingkai politik Orde baru. Ia ditekan, bahkan ia dibunuh berkali-kali, tak tampak satu pun kebencian pada bangsanya. Ketika ia harus makan bangkai tikus, cecak dan daging kuda yang terserang antrax, lamunannya justru melayang jauh ke jaman-jaman kegelapan sejarah bangsa Indonesia yang disembunyikan rapat-rapat oleh penguasa. Ia tak mengeluh, ia tak memaki. Kecintaannya pada manusia Indonesia yang tersingkir, terkucil, jadi obyek, tapi tetap berupaya terus eksis begitu tinggi. Ia mencintai kemanusiaan begitu dalam Kita bisa melihat hal ini dari sejumlah karyanya mulai dari Perburuan, Keluarga Gerilya, Di Tepi Kali Bekasi hingga “tetralogi” Bumi Manusia. Ia pernah disebut-sebut sebagai bunga Angkatan 45. Tapi kini, tak ada satu pun buku resmi di Indonesia yang mencatat namanya sebagai salah satu tokoh penting sastrawan Angkatan 45. Kenapa? Dalam wacana sastra Orde Baru, Pram -seperti juga jutaan tapol lain di Indonesia- dianggap tak pernah ada. Ia tak pernah lahir, bernafas apalagi berkarya di Indonesia. Bukan cuma itu, rumahnya pun boleh didudyuki secara sewenang-wenang, buku-bukunya boleh diambil dan dibakar. Ia betul-betul tak pernah ada. Tapi itulah kehebatan Pram. Semakin ditiadakan, ia semakin ada. Ia justru eksis dalam ketiadaannya. Orang berebut membaca tulisan- tulisannya. Buku-buku karyanya yang selalu dilarang laris seperti kacang goreng. Berkali-kali namanya disebut-sebut sebagai calon pemenang Nobel. Sejumlah lembaga sastra internasional juga mengangkatnya sebagai anggota kehormatan sebagai penghormatan atas dedikasinya pada dunia sastra. Siapakah Pram dan bagaimana karya-karya yang dihasilkannya? Buku ini merupakan sebuah rekaman atas manusia kelahiran Blora 72 tahun lalu yang bernama Pramodya Ananta Toer. Perjalanan hidupnya, meski sangat singkat, terekam cukup baik. Secara detil penulis buku ini mencoba merekonstruksi bangunan berpikir Pram mulai dari jaman Pra Lekra, Lekra, Ide Realisme Sosialis hingga karakteristik penokohan yang inheren dalam diri Nyai Ontosoroh dan Minke. Sejumlah telaah kepustakaan dan argumentasi dikemukakan penulis untuk memisah-misahkan dan menganalisis pikiran Pram lewat karya-karyanya. Kemudian kepingan dan serpihan yang ada disusun kembali dalam bayangan manusia Pram beserta sejumlah pengalaman sejarah yang membentuk wataknya. Kesimpulan sang penulis: Pram adalah seorang humanis tulen, sebagaimana sosok Multatuli yang dikagumi Pram habis-habisan Dan yang lebih mengejutkan lagi: Pram ternyata jauh berbeda dengan apa yang dituduhkan oleh rejim Orde Baru pada dirinya. Buku ini sebetulnya adalah sebuah desertasi doktor dari sang penulisnya. Koh Young Hoon sendiri adalah orang Korea. Ia pernah belajar dan mengajar di Universitas Nasional. Desertasi yang dibuatnya selama 6 tahun sebetulnya direncanakan akan dipertahankan di salah satu univeritas di Jakarta, tapi tak ada satu pun akademikus Indonesia yang bersedia jadi promotor resminya. Akhirnya karya ini harus dipresentasikan Koh Young Hoon di Universitas Malaya, Malaysia pada 1993. Si penulis juga melampirkan semua judul karya Pram. Baik buku yang telah diterbitkan mau pun yang belum, makala, artikel mau pun surat pribadi. Tak pelak lagi, penyusun buku ini dengan jeli berhasil mengamati setiap respon Pram dalam menanggapi perkembangan peradaban di sekitarnya yang selalu memunculkan “revolutionary hero” lewat pergulatan batin para tokoh fiksinya, yang samar antara ada dan tiada. Orang- orang yang kerap diidentifikasi kritikus sastra sebagai tokoh yang kaya dengan pengalaman kemanusiaan. Resensi Penulis: Wisman Penerbit: Gagas Media Saya termasuk telat membaca buku ini, tidak langsung memburunya kala pembukuan blog sedang naik daun. Tapi menerima uluran dari keponakan yang memilikinya, tak urung tertarik juga. Setiap kali melihat di toko, menimbang antara buku ini dan Cinta Brontosaurus, hasilnya..selalu membeli buku lain. Salut buat Raditya yang dapat melariskan karyanya sampai cetakan ke sebelas. Juga menghantarkannya ke layar perak meski, menurut blog barunya, masih proses penulisan draft. Namun secara keseluruhan, saya mempunyai satu pertanyaan saja: Mengapa humor senantiasa identik dengan jorang? (bahasa Sunda, artinya porno dan vulgar). Saya tertawa pada bagian yang benar-benar segar, yakni kesalahan Sime sang dosen di Aussie untuk mengeja dan memanggil nama Harianto dari waktu ke waktu. Juga bahasan partai politik dan pemilu, beserta gambar dan celotehan yang kira-kira berbunyi: Menonton siaran kampanye dapat merusak kesehatan. Selebihnya, saya merasa seperti nonton film komedi Amerika mulai dari bunyi-bunyian (kentut maksudnya), sampai banyak sekali menyebut organ vital laki-laki. Selera humor saya memang lain, tidak bisa tertawa membaca hal-hal semacam itu. Makin tak bisa tertawa karena menyadari keponakan saya yang masih SMP sudah membacanya. Duh, aduh.. Tapi kembali pada ilustrasi, Dika sukses mencegah saya ngantuk mengingat fontnya kecil-kecil, agak rapat dan berformat diary banget. Prev: Resensi Kumcer Anak: Anak dalam Cermin Next: Resensi Buku: Catatan Hati Seorang Istri Resensi Buku: Tolong, Radith Membuat Saya Bego Cover Buku Tolong, Radith Membuat Saya Bego Satu lagi ‘’lelaki penghibur’’ hadir di negeriini dari cerita-cerita banyolannya yang unik. Setelah era Hilman dengan lupusnya yang mulai tenggelam, nama Raditya Dika tak akan bisa dilepaskan dari penulisan novel teenlit menghibur dan konyol. Kendati ditulis dengan ide yang ‘’agak jorok’’ dan asal, buku-buku karya Raditya Dika kenyataannya mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat. Bahkan, salah satu bukunya Kambing Jantan, kini sudah menjadi sebuah film Kambing Jantan-nya yang juga dapat dinikmati di bioskop-bioskop nusantara. Raditya, dalam tiap terbitan bukunya, selalu meminta pendapat dan tanggapan pembaca. Penilaian dari dirinya sendiri bahkan menjadi catatan yang juga menarik dan tentu saja konyol. Bahkan itu melahirkan buku baru tersendiri. Buku Kambing Jantan, misalnya, pernah mampir di buku tentang tanaman dan hewan. ‘’Mungkin toko bukunya menyangka ini buku peternakan,’’ selorohnya. Selain Kambing Jantan, bukunya yang lain adalah Cinta Brontosaurus dan Radikus Makankakus. Semuanya adalah buku humor, catatan harian Dika-panggilannya, yang penuh kelucuan dan kebanyolan. Dika sendiri menyebutkan dalam buku ini, semua yang ditulisnya pure untuk menghibur. Dalam sebuah talkshow, dia pernah diminta bertobat karena menulis buku yang ‘’tak pantas’’ ini. Dan ia membuat pembelaan bahwa buku ini memang hanya untuk menghibur. Lebih dari itu, Dika menyadari bahwa muatan buku ini kadang bisa tidak positif. Namun menurutnya, karena tujuannya adalah untuk menghibur, tentunya membuat tertawa merupakan tujuan akhirnya. Radit suka tertawa dan menularkan tawa adalah hobinya juga. Ada makna magis dari tertawa sehingga semua masalah bisa hilang. Bahkan tertawa bisa menjadi sebuah terapi (laugh therapy). Buku Tolong, Radith Membuat Saya Bego ini merupakan komunikasi penulis dengan penyuka buku Radit. Isinya tentang tampilan pembaca dengan buku-buku karangan Radit sebelumnya, yang juga dilengkapi dengan berbagai foto dan tulisan. Buku ini terlahir dari kontes Aku dan Buku Radithku. Kontes yang memang gila dan penuh banyolan. Salah satu isi pengakuan penggemar buku ini misalnya bercerita tentang ajaibnya banyolan Dika. Salah satu buku itu ternyata dapat mencairkan sembelit, ketika pembacanya masuk WC sambil membaca buku. Masalah sembelit pun tuntas. Buku ini memperlihatkan bahwa penulis dan pembaca dapat bermain bersama dan itulah yang dilakukan penulis: berkomunikasi lebih erat dengan pembacanya. Dengan demikian, penulis terus dapat merogoh kocek pembaca dengan buku-buku berikutnya. Nah!*** SINOPSIS AYAT2 CINTA. Ini adalah kisah cinta. Tapi bukan cuma sekedar kisah cinta yang biasa. Ini tentang bagaimana menghadapi turun-naiknya persoalan hidup dengan cara Islam. Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al Ahzar. Berjibaku dengan panas-debu Mesir. Berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalani Fahri dengan penuh antusiasme kecuali satu: menikah. Kenapa? Karena Fahri adalah laki-laki taat yang begitu ‘lurus’. Dia tidak mengenal pacaran sebelum menikah. Dia kurang artikulatif saat berhadapan dengan mahluk bernama perempuan. Hanya ada sedikit perempuan yang dekat dengannya selama ini. Neneknya, Ibunya dan saudara perempuannya. Betul begitu? Sepertinya pindah ke Mesir membuat hal itu berubah. Tersebutlah Maria Girgis. Tetangga satu flat yang beragama Kristen Koptik tapi mengagumi Al Quran. Dan menganggumi Fahri. Kekaguman yang berubah menjadi cinta. Sayang cinta Maria hanya tercurah dalam diary saja. Lalu ada Nurul. Anak seorang kyai terkenal yang juga mengeruk ilmu di Al Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati pada gadis manis ini. Sayang rasa mindernya yang hanya anak keturunan petani membuatnya tidak pernah menunjukkan rasa apa pun pada Nurul. Sementara Nurul pun menjadi ragu dan selalu menebak-nebak. Setelah itu ada Noura. Juga tetangga yang selalu disika Ayahnya sendiri. Fahri berempati penuh dengan Noura dan ingin menolongnya. Sayang hanya empati saja. Tidak lebih. Namun Noura yang mengharap lebih. Dan nantinya ini menjadi masalah besar ketika Noura menuduh Fahri memperkosanya. Terakhir muncullah Aisha. Si mata indah yang menyihir Fahri. Sejak sebuah kejadian di metro, saat Fahri membela Islam dari tuduhan kolot dan kaku, Aisha jatuh cinta pada Fahri. Dan Fahri juga tidak bisa membohongi hatinya. Lalu bagaimana bocah desa nan lurus itu menghadapi ini semua? Siapa yang dipilihnya? Bisakah dia menjalani semua dalam jalur Islam yang sangat dia yakini? Sinopsis 'Bawang Putih Bawang Merah' Episode 23 RAY sempat bengong begitu melihat ALYA jatuh ke dalam kolam. Ia pun segera menolong ALYA. RAY membuka seluruh pakaian ALYA yang basah dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Saat itulah DAVIN masuk. DAVIN tampak shock melihat RAY dan ALYA berada bersama. DAVIN pun marah besar pada RAY. Akibat kejadian itu, ALYA pun menjadi trauma dan histeris ketakutan setiap kali melihat RAY. RAY tentu aja sedih akan hal itu. SISIL pun makin memperkeruh suasana dengan menebarkan gosip kalau RAY menculik ALYA dan memperkosanya. Semua anak di sekolah pun mulai merendahkan dan menjauhi RAY. MONTHY yang awalnya hanya sibuk dengan usahanya menaklukkan JULIA, akhirnya tersadarkan oleh JULIA, kalau ia harus peduli pada RAY. MONTHY yakin kalau RAY dijebak. MONTHY pun membantu RAY mencari siapa sebenarnya yang menjebak RAY. Saat itulah mereka bertemu dengan kedua penculik ALYA. Mereka berhasil menangkap seorang di antara mereka. SISIL tentu saja sangat panik mengetahui hal itu.
TUGAS PENGANTAR PENGKANJIAN KESUSASTRAAN Analisis novel Judul : Kemarau Pengarang : A.A Navis Halaman : 143 Penerbit : Gramedia Sutan Duano adalah seorang garim penjaga surau di sebuah desa di tepi danau. Setiap hari Kerjanya hanya beribadah kepada tuhan. Hingga suatu hari datanglah haji tumbijo, ia rupanya mengenal dekat sutan duano. Haji tumbijo datang dari kota karena ketika itu serdadu belanda lagi mencoba kekutan tenaga revolusi rakyat Indonesia dengan menduduki seluruh kota. Dan ketika haji tumbijo hendak kembali kekota ia berkata kepada pada ‘ wali nagari ‘ bahwa sutan duano akan berbah dan akan jadi orang yang berguna di desa itu. Sutan Duano mulai mengerjakan sawah-sawah ladang-ladang dan hewan ternak yang telah tidak dipakai lagi dan di kembalakan lagi oleh pemiliknya.karena orang yang punya pergi merantau keluar kota dan ada juga diantara mereka ikut kursus untuk pengetahuan umum di kampung itu. Saat ketika harga mulai meningkat dan uang pun sudah mulai sulit memperolehnya orang-orang sudah mulai bosan pada kursus kursus. Sutan duano sudah termasuk jadi orang yang berada di kalangan masyarakat itu.ia sudah punya sepasang bendi,punya seekor sapi untuk membajak , karananya ia sudah menjadi orang berarti di kampong itu. Dan ia disegani oleh semua orang karna kebaikan hatinya bukan karna kayanya. Ia pun mendirikan koperasi dan menjadi guru agam di kampong itu. Sutan duano pun menolong sutan caniago salah seorang warga kampung itu datang kepada sutan duono dengan madsud mau memberikan modal padanya untuk merantau. Sutan caniago meminjam uang dengan cara mengijom padi yang telah selesai di sianganya. Namun sutan duano akan mau memberikan modal tersebut jika sutan caniago mau memenuhi beberapa syarat .sutan caniago pun sanggup dan akhirnya ia mendapatkan modal tersebut untuk pergi merantau. Kebaikan sutan duano mengemparkan isi kampong . dan di saat itulah ia menjadi orang yang berarti. Ketika bendar-bendar air sudah mulai kering. Sutan duano pun berpikir untuk menyelamatkan sawah warga kampong tersebut dan sawahnya. Lebih dahulu diajaknya “wali nagari “supaya mengarahkan masyarakat bergotong royong untuk mengangkut air dari danau. Namun wali nagari tidak bisa membantunya dengan alas an masyarakat tersebut telah tepecah belah oleh partai-partai pollitik yang hanya suka mencari popularitas. Lagi pula masyarakat tersebut tidak suka di perintah. Setelah menemui beberapa orang yang dianggap penting di desa tersebut namun tidak juga menemui keberhasilan dalam menyelamatkan sawah yang sudah kekeringan. Akhirnya ia bertindak sendiri. Ia memotong sebatang bambu yang di kedua ujungnya di gantungkan dua buah “belek minyak tanah”, kemudian di isinya belek tersebut dengan air danau. Dan belek-belek itu diangkutnya kesawahnya dan tidak lupa juga kekolam ikan miliknya. Sementar sutan duano mengangkut air dari danau masyarakatkampung tersebut meminta pertolongan dukun dan orang pintar agar hujan tetap turun di kampung tersebut. Namun hasilnya tetap nihil . Masyarakat kampung tersebut bertobat dan mengerjakan sholat ratib dan sembahyang kaul namun hasilnya sia-sia juga. Semenjak sutan duano mengambil air dari danau untuk sawahnya dan sawah acin anak dari si gundam ia di perjunjingkan oleh orang-orang di kampung itu malah ia dipergunjingkan akan menikahi si gundam . hingga acin anak dari si gundam yang akrab dengan sutan duano pun di larang berkawan dengan sutan duano. Para penduduk kampung tersebut juga malu bertemu dengan sutan duano karena tidak mau mengikuti kehendak sutan duano. Ketika datang surat dari masri anak sutan duano yang telah lama di tinggalkannya. Masri yang telah lama tidak berjumpa dengan sutan duano pun meminta sutan duano agar datang ke Surabaya. Masyarakat kampung itu pun gempar dengan berita itu. Mereka ingin menanyakan langsung pada sutan duano. Setelah menanyakan langsung pada sutan duano akhirnya sutan duano memutuskan untuk tidak meninggalkan desa itu. Karena masih ada tugas yang akan dilakukannya di desa tersebut. Hari pun berganti sutan duano pun berhasil memperoleh hasil dari sawahnya,ia berhasil membuktikan kepada orang di desa tersebut dengan memberi contoh. Surat kedua dari masri pun datang.ia pun terpaksa pergi karna terjadi sesuatu, yaitu sesudah sakitnya acin ia diundang untuk menghadiri sukuran atas sembuhnya acin.sutan duano tidak datang gundam pun merasa di permalukan ia tidak terima. Setiba di rumah masri ia di hadang oaleh wanita tua yang kurus. Wanita tua tersebut rupanya adlah mantan istrinya yang di usirnya dulu sebelum ia pergi menyesali perbuatannya.hingga karena itulah ia pergi menyendiri ke desa di tepi danau tersebut. Wanita tua tersebut mempunyai seorang anak arni namanya. Arni adalah istri dari masri namun arni juga merupakan anak dari sutan duano. Sutan duano akan mengatakan kenyatakan itu pada anak nya masri dan arni. Numun “iyah” mantan istrinya menentang itu ia pun memukuli kepala sutan duano bertubi-tubi hingga sutan duano tak berdaya. Masri dan arni pun datang dan mencegah perbuatan ibunya. Bertahun-tahun kemudian diketahui bahya iyah menemui ajalnya di rumah sakit setelah tak lama memberi tahukan rahasia perkawinan masri dengan arni. Merekapun akhirnya bercerai, masri kawin dengan teman sekantornya, sedangkan arni kawin dengan anak haji tumbijo. Sedangkan sutan duano kembali kedesa di tepi danau,hidup dengan gundam di mana acin telah menjadi anaknya yang sah.. Analisis intrinsic novel: • Pelaku 1. Sutan duano adalah seorang garin penjaga surau di sebuh desa di tepi danau.ia mempunyai seorang anak yang bernama masri ia pergi meninggalkan sutan duano,ketika sepeninggal istrinya sutan duano asik bermain dengan wanita jalang. Ketika insaf dia pergi ke desa tersebut untuk menyendiri menghadap tuhan.dan untuk memperbaiki prilaku masyrakat itu. Sutan duano mempunyai watak baik hati bijak, keras kepala dan gigih serta penolong, terbukti ketika ia mengantarkan air dari danau untuk sawahnya dan juga sawah acin anak dari si gundam ( bab 3 ) dan ketika ia ingin mengatakan apa yang terjadi antara anak nya Masri dengan Arni menantunya tersebut. 2. Haji tumbijo adalah kakak ipar sutan duano yang mempunyai watak baik hati, penyabar dan bijak sana terdapat pada (bab 3 hal 4). Ia yang telah merubah sutan duano menjadi rajin dan giat berusaha yang sebelumnya hanya beribadat saja. 3. Gundam, ibunya acin yang suka pada sutan duano wataknya adalah baik hati, keras kepala, penyayang dan ramah. Ia melarang acin terlalu dekat dengan sutan duano karana di pergunjingkan oleh masyarakat di kampung tersebut. 4. Acin, adalah anak yang polos baik hati pintar dan gigih ia merupakan anak yang sayang pada sutan.ia yang perrtama sekali bertanya pada sutan duano ketika sutan duano mengambil air dari danau, dan ia pun juga mau mengambil air dari danau untuk sawahnya.(terdapat pada halaman 18) 5. Amah adalah adik dari acin. 6. Wali nagari adalah seorang pemimpin,atau seorang kepala desa ia menyetujui kehendak sutan duano yang ingin mengambil air dari danau. Tapi ia tidak dapat menolong sutan duano untuk membantu mengajak masyarakat desa tersebut. Wataknya baik hati, dan cukup bijak terbukti ketika terjadi perkelahian antara gundam dan saniah, ia menjadi penengah saat terjadi perkelahian tersebut. 7. Sutan cniago adalah orang yang ditolong sutan duano. Wataknya baik, dan ia menepati janjinya pada sutan duano. 8. Iyah adalah istri kedua sutan duano ia telah berusaha agar suaminya “ sutan duano “ tidak terlalu mengingat masa lalunya. Namun ia di usir oleh sutan duano ketika masih mengandung “ Arni”. Ia juga mertua dari masri. Ia berani menanggung dosa dengan tidak mengatakan bahwa masri dan arni adalah saudara kandung.wataknya keras kepala,sabar dan baik hati. 9. Masri adalah anak kandung dari sutan duano Ia pergi meninggalkan sutan duano ketika mendapati sutan duno sedang bermesraan dengan wanita jalang di kamarnya.dan ketika telah sukses Ia mengetahui kebedaan ayahnya dari haji tumbijo. Ia pun mengirimi ayah surat agar ayahnya datang kerumahnya di Surabaya. Wataknya baik,penyabr dn pemaaf. 10. Arni adalah anak kandung sutan duano dari istri keduanya “iyah” arni dlah istri dari masri. Di sini tidak di gambarkan dengan jelas wtk dari arni, namun saya berpen dapat bahwa watak dari arni adalah baik. 11. Saniah adalah wanita busuk hati terhadap gundam, ia menuduh gundam menggunakan ilmu hitam untuk mengait sutan duano. Ia pernah tertangkapa basah oleh sutan duano mengubur sesuatu di bawah rumah gundam saat gundam pergi ke bukittinggi untuk mengobati acin yang sedang sakit. Watak nya iri jahat dan busuk hati. 12. Lemba tuah dan pandek sutan adalah mamak dari saniah ia yang menghajar raja muntari dan mangkuto ketika hendk melerai perkelahian antara gundam dan saniah. 13. Raja muntari dan mangkuto adalah mamak dan kakak gundam. Mereka memarahi gundam karena telah percaya pada perkataan saniah yang mengatakan bahwa gundam telah berbuat senonok dengan sutan duano di kebunnya. • Tema dan amanat Tema : kehidupan seoarang garin penjaga surau yang ingin merubah kehidupan suatu masarakat di suatu kampung di tepi danau. Amanat: ada tiga amanat dalam novel ini 1. Ingatlah kalau hati mu di sakiti orang. Jangan ambil tindakan segera pikir dulu. Sudah dipikir pikir lagi. Yang di pikirkan apa ada gunanya kita marah atau tidak. Di sini pengarang ingin mengatakan pda kita bahwa jika ingin marah maka sebaiknya dipikir-pikir dahulu apakah ada gunanya kita marah atau tidak. Jika tidak maka sebaiknya tidak usah marah karna tidak akan ada gunanya. 2. Bukan kemewahan tujuan hidup. Tujuan hidup adalah kedamain hati, tidak berbuat dosa tapi banyak pahala. Kemewahan dan kemudahan memang dambaan setiap orang. Manun apabilaa kemewahan tersebut tidak mendamaikan hati kita maka. Tujuan hidup adalah kedamaian hati. Tidak berbuat dosa tapi banyak pahala. 3. Hidup berjuang dengan keiklasan adalah jalan untuk menemui tuhan yang maha esa. • Plot dan alur Pada umum dalam novel ini pengarang menggunakan alur maju karena hampir semua cerita pokoknya di ceritakan secara berurutan sesuai dengan kejadian, namun ada sebagian cerita yang di ceritakan secara tidak berurut yaitu terdapat pada bab satu dan dua. Nampak ketika sutan duano datang ke desa tersebut hingga hingga ia di usir dari kampung dan pergi ke Surabaya setelah itu pada akhir cerita ia kembali lagi ke desa si tepi danau tersebut. • Gaya bahasa Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini pada umumnya segar dan menarik. A.A navis mengunakan bahasa “minang” bahasa daerahnya. Contohnya dalam mengunakan kata “ wali nagari “ ,“sutan”,”rajo” yang mana kata-kata tersebut merupakan bahasa dalam daerah minang kabau. A.A Navis. Analisis ekstrisik novel Novel kemarau karya A.A navis ini mengandung nilai-nilai yang besar artinya bagi pembaca yang mau memahami secara intensif.nilai kehidupan itu adalah nilai social,moral,ekonomi,politik dan filosofis. • Nilai sosial :latar sosial dalam novel ini adalah kehidupan masyarakat minang yng mempunyai sifat malu yang berptokan pada adat basandi sarak dan sarak basndi kitabullah.orang minang jua terkenal dengan sifat merantau yang di milikinya. • Nilai budaya : kepercayan masyarakat minang yang masih mempercyai dukun • Nilai moral : sifat terus terang adalah baik karena tidak mengakibatkan orang salah kira terhadap diri kita, dalam novel ini sutan duano tidak berterus terang kepada masyarakat tentang siapa orang yang telah menanam sesuatu di rumah gundam. Jika sutan duano berterus terang maka ia tidak akan di tuduh memperkosa saniah yang berusaha membujuk sutan duano untuk mengawininya. Janganlah terlalu larut dalam suatu masalah karna akan merugikan diri kita sendiri. Di sini sutan duano tidak bisa melupakan mantan isterinya yang telah meninggal terbukti ketika dia masih mengatur keadn rumahnya sama persisi ketika waktu istrinya masih ada.hingga ia terjerumus dalam kehidupn wanita jalang. Dalm novel ini juga di ceritakan tentang sifat sutan duano yang suka menolong sesamanya. • Nilai politik : wali nagari tidak bisa membantu sutan duano menyuruh masyarakat mengangkut air dari danau. Karna masyarkat di sana sudah di pengaruhi oleh partai-partai poltik hinga wali nagari takut untuk menyuruh masyyrakat karna takut di anggap sebagai pengunaan kekuasaan politiknya • Nilai filosifis : Sutan duano adalah seseorang yang memeluk agama islam ia tinggal di sebuah surau yang tidak di tempati lagi. Semula ia hanya beribadat saja namun setelah ia bertemu dengan haji tumbijo ia menjadi seseorang yang sangat di hargai karna kedalaman ilmu agama dan juga budinya yang baik. Maka ia pun bertekat ingin merubah cara pandang hidup masyarakat tersebut yang semula hanya bisa pasrah terhadap kekeringan yang melanda negeri yang terletak di tepi danau tersebut. Ia pun menyebarkan dakwa islam serta mengadakan kegiatan kegamaan di surau yanbg di tempatinya. ANALISIS PUISI SEMENTARA LANGIT Karya ismail, 1982 : 11 Bunyi apa gerangan, tertahan asing dan jauh mereka-reka bahagia, meraba-raba rahasia ketika tanganmu menjamah, dingin dan kaku kita pun terdiam dalam pandang yang kaku Anlisis intrinsk : • Bait dan baris. Bait pada puisi ini ada satu bait yang terdiri dari empat baris. Bait yang paling panjang terdiri dari tujuh kata sedangkan bait yang paling pendek terdiri dari empat kata • Perloncatan baris Menurut saya tidak terjadi peloncatan bait pada puisi ini. • Bahas dan gaya bahasa Majas personifikasi terdapat pada bait satu. Majas metafora terdapat pada baris ke tiga • Pilihan kata Menggunakan kata dengan makna konotasi, denotasi Contoh: ketika tangan mu menjamah.bermakna konotasi • Irama Penekanan irama pada puisi ini terdapat pada bait sebagai berikut 1. Untuk irama lembut panjang rendah di gunakan tanda < 2. Untuk irama lembut panjang tinggi digunakan tanda > 3. Untuk irama keras pendek rendah di gunakan tanda # 4. Untuk irama keras pendek tinggi di gunakan tanda * Bunyi# apa* gerangan>, tertahan> asing< dan jauh> mereka-reka> bahagia<, meraba-raba# rahasia< ketika tanganmu menjamah, dingin dan kaku kita pun# terdiam# dalam pandang> yang kaku> • Citraan 1. Citraan penglihatan: mereka bahagia 2. Citraan pendengaran: bunyi apa gerangan tertahan-tahan asing dan jauh 3. Citraan gerakan: meraba-raba rahasia 4. Citraan perasan: tidak ada di jumpai dalam puisi ini 5. Citraan pemikiran: ia pun terdiam dalam pandang yang beku • Bunyi dan rima Dengan puisi lama ini perpaduan bunyi dan rimanya tetap tampak pada bait ke tiga dan keempat • Tema dan amanat Tema : Sesorang yang memerhatikan langit dengan segenap perasaan yang ada di jiwanya. Amanat : tidak dapat saya temukan amanat dalam puisi ini. • Plot dan setting Mengunakan plot maju.. karena menceritakan dari awal sampai akhir • Penokohan dan perwatakan Tidak penokohan dalam puisi ini • Sudut pandang Sudut pandang yang digunakn kata ketiga orang jamak.. yaitu “ mereka “ Analisis ektrinsik : Terdapat nilai buadaya di sini yaitu sebuah lingkungan yang dimana oaring-orang yang berad di sana mersakan kegenbiraan. IBUKU DEHULU Karya Hamzah, 1985 a : 30 Bangkit ibu dipegangnya aku Dirangkumnya segala kecupannya serta Dahiku berapi pancaran neraka Sejak sentosa turun kekalbu Anlisis intrinsk : • Bait dan baris. Terdiri atas satu bait yang terdiri dari empat baris atau larik. Semua baris terdiri dari empat kata. Di lihat dari banyak baris dalam puisi ini dinamakan kuateren, apabila dilihat dari rima maka puisi ini di namakan puisi bebas. • Perloncatan baris Pelonctan baris yang terjdi dalam puisi ini terjdi antara baris satu dengan baris dua. Yang mana antara baris tersebut ddi pisahkan oleh koma, Bangkit ibu dipegangnya aku (,) Dirangkumnya segala kecupannya serta (-) Dahiku berapi pancaran neraka (.) Sejak sentosa turun kekalbu (.) • Bahas dan gaya bahasa Gaya bahasa yang digunakan dalam puisi tersebut adalah Bangkit ibu dipegangnya aku Dirangkumnya segala kecupannya serta Dahiku berapi pancaran neraka ( hiperbol karena di ungkapakan secra berlebihan ) Sejak sentosa turun kekalbu (metafora karena mengunakan perumpamaan) • Pilihan kata Kata yang di gunakan pengarang adalah makna kias “ dahiku berapi dalam pancaran neraka” • Irama Penekanan irama pada puisi ini terdapat pada bait sebagai berikut 1. Untuk irama lembut panjang rendah di gunakan tanda < 2. Untuk irama lembut panjang tinggi digunakan tanda > 3. Untuk irama keras pendek rendah di gunakan tanda # 4. Untuk irama keras pendek tinggi di gunakan tanda * Bangkit ibu (<) dipegangnya aku (<) Dirangkumnya(<) segala kecupannya serta(#) Dahiku berapi(*) pancaran neraka(#) Sejak sentosa turun kekalbu(>) • Citraan 1. Citraan penglihatan : bangkit ibu di pegaangnya aku 2. Citraan pendengaran : tidak ada 3. Citraan gerakan : bangkit ibu di pegangnya aku 4. Citraan perasaan : sejak sentosa turun ke kalbu, dahi ku berapi 5. Citraan pemikiran : pancaran neraka • Pengalaman jiwa Pengalaman jiwa terbagi dalam 1. pengalaman jiwa anorganik : tidak ada 2. vegetative/suasana :sejak sentosa turun kekalbu 3. animal/ nafsu ;segala kecupnnya serta 4. sifat manusia, : bangkit ibu dipegangya aku 5. sifat kegamaan : pancaran neraka • Bunyi dan rima Bunyi dalam puisi ini serasi antara baris pertama dengan keempat dan baris kedua dengan ke tiga • Tema dan amanat Tema dalam puisi ini adala kecintaan ibu pada anaknya. Amanat nya adalah jangan lah pernah menyiakan kasih saying yang pernah di berikan ibu. • Plot dan setting Tak diketahui plot dan seting dalam puisi ini • Penokohan dan perwatakan Seoarang ibu : mencintai anaknya Si aku : juga mencintai ibunya • Sudut pandang Mengunakan sudut pandang orang pertama (aku) dan orang ketiga (ibu) Analisis ektrinsik : • Nilai moral Nilai kasih sayang yang telah di berikan ibu pada kita, bagai mana cara kita untuk menghargainya dan membalas apa yang telah ibu berikan pada ibu. • Nilai social Bagai mana cara kita bersosial terhadap orang yang telah melahirkan kita. PERJUANGAN Karya : Alisjahbana, 1984 : 29 Hatiku : Dia sekasih itu, cumbu semata gelaknya. Limpahan cinta segembira itu tiadakan terdapat Lagi. Aku tidak kuasa terus berjalan Lenyapkan aku dalam tiadaan 1 Anlisis intrinsk : • Bait dan baris. Terdapat satu bait yang terdiri dari enam baris. Baris yang terpanjang terdiri dari enam kata, sedangka baris terpendek terdiri dari satu kata saja.terdapat ke unikan dalam puisi ini yaitu pada bait pertama tidak menjorok kedalam sedangkan pada bait-bait berikutnya menjorok kedalam. • Perloncatan baris Tidak terdpt perloncatan yang terajadi karena penulis telah mengunakan tanda baca daalam membuat puisi ini. • Bahas dan gaya bahasa Hatiku : Dia sekasih itu, cumbu semata gelaknya.(personifikasi /perumpamaan) hati dapat gelak atau tertawa Limpahan cinta segembira itu tiadakan terdapat (metafora membandingkan secara langsung ) Lagi. Aku tidak kuasa terus berjalan Lenyapkan aku dalam tiadaan 1 (hiperbola) • Pilihan kata Kata yang di gunakan ada yang bemakna ambigu (tiadaan)konotasi(cumbu) perlambangan (hatiku) • Irama Penekanan irama pada puisi ini terdapat pada bait sebagai berikut 1. Untuk irama lembut panjang rendah di gunakan tanda < 2. Untuk irama lembut panjang tinggi digunakan tanda > 3. Untuk irama keras pendek rendah di gunakan tanda # 4. Untuk irama keras pendek tinggi di gunakan tanda * Hatiku (<) Dia sekasih itu(>), cumbu semata(#) gelaknya(*). Limpahan cinta segembira itu(>) tiadakan terdapat(*) Lagi.(#) Aku tidak kuasa terus berjalan(>) Lenyapkan aku dalam tiadaan 1(<) • Citraan 1. Citraan penglihatan : tidak ada 2. Citraan pendengaran : cumbu semata gelaknya 3. Citraan gerakan : aku tak kuasa terus berjalan 4. Citraan perasaan : limphancinta segembira itu 5. Citraan pemikiran :tidak ada • Pengalaman jiwa 1. pengalaman jiwa anorganik : sekasih 2. vegetative/suasana : lenyapkan aku dalam ketiadaan, segembira itu tiada terdapat 3. animal/ nafsu ; tidak ada 4. sifat manusia, : dia sekasih itu 5. sifat kegamaan : tidak ada • Bunyi dan rima Tidak terdapat persamaan bunyi dalam puisi ini • Tema dan amanat Menurut saya tema puisi ini adalah orang yang patah hati karna di tingaal oleh sang kekasih. Amanat nya jangan lah putus asa dalam menjalani kehidupan karna hidup ini masih panjang,, • Plot dan setting Menggunakan alur maju. • Penokohan dan perwatakan Tokoh dalam puisi ini adlah orang yang lagi sedih hatinya karna di tinggal oleh sang kekasih • Sudut pandang Mengunakan orang pertama tunggal.(aku) Analisis ektrinsik : • Nilai moral Kehidupan kecintaan kita terhadap orang kita cintai. SESEORANNG SEDANG MENCARI Karya : Rosidi, 1975 : 65 “Aku bosan pada sepi Karna hidup tidaklah sepi Tapi aku telah mengerti” Anlisis intrinsk : • Bait dan baris. Terdiri dari saatu bait tiga baris. Yang setiap baitnya terdapat empat kata yang ringkas. • Perloncatan baris Tidak terjadi perloncatan baris dalam puisi ini. • Bahas dan gaya bahasa Adapun gaya bahsa atau majas yang di gunakan adalah personifikasi karana si aku telah bosan pada sepi yang seolah-olah hidup. Puisi ini juga menggunakan majas pebandingan langsung. • Pilihan kata Puisi ini menggunakan kata-kata dengan makna konotasi denotasi dan perlambangan. • Irama Penekanan irama pada puisi ini terdapat pada bait sebagai berikut 1. Untuk irama lembut panjang rendah di gunakan tanda < 2. Untuk irama lembut panjang tinggi digunakan tanda > 3. Untuk irama keras pendek rendah di gunakan tanda # 4. Untuk irama keras pendek tinggi di gunakan tanda * “Aku bosan(<) pada sepi(<) Karna hidup(>) tidaklah sepi(<) Tapi aku(#) telah mengerti”(<) • Citraan 1. Citraan penglihatan : tidak ada 2. Citraan pendengaran : tidak ada 3. Citraan gerakan : tidak ada 4. Citraan perasaan : aku bosan pada sepi 5. Citraan pemikiran : tapi aku telah mengerti • Pengalaman jiwa 1. pengalaman jiwa anorganik : bosan pada sepi 2. vegetative/suasana : bosan pada sepi 3. animal/ nafsu ; tidak ada 4. sifat manusia, : bosan, tidak mengerti 5. sifat kegamaan : tidak ada • Bunyi dan rima Terdapat persamaan bunyi pada akhir kata pada setiap baris,( sepi, sepi, mengerti) • Tema dan amanat Tema yang digunakan dalam puisi ini pun sesuai dengn judulnya yaitu seseorang yang mencari hakikat kehidupan sebenarnya Amantnya adalah kesepian dalam hidup adalah sesuatu hal yang pasti pernah kita jumpai oleh krena itu sabarlah dalam menghadapi kesepian itu. • Plot dan setting Tidak terdapat plot dan setting dalam puisi ini. • Penokohan dan perwatakan Tokoh yang di gambarkan dalam puisi ini adalah seseorang yang bosan dan muak dengan kesepian yang dia rasakan. • Sudut pandang Sudut pandang yang di gunakan dalam puisi ini adalah orang pertama tunggal (aku) Analisis ektrinsik : • Nilai sosial Sia aku yang bosan pada kesepian yang hingapa pada diri nya KUTA Karya : Rosidi A,malem dalam Suryadi AG, 1987 : 143 Jane,jane, matamu Samudra luas tak terduga Haus dan lapar Menyeringai bagai hantu Anlisis intrinsk : • Bait dan baris. Seperti yang kita kihat di atas puisi ini terdiri dari satu bait yang pendek terdiri dari empat baris. Baris yang panjang mempunyai empat kata sedangkan baris yang terpendek terdiri dari tiga kata, tiap baris di tulis dengan tidak sejajar. Dan di beri jarak agak lima spasi. • Perloncatan baris Puisi ini pun tak mengalami peloncatan baris. Jane,jane, matamu . Samudra luas tak terduga . Haus dan lapar . Menyeringai bagai hantu . • Bahas dan gaya bahasa Gaya bahasa yang di gunakan pengarang dalam puisi ini adlah majas personifikasi ( haus lapar menyeringi bagai hantu) hiperbola (samudra luas tak terduga) metfora ( mata mu menyeringai bagai hantu) • Pilihan kata Kata yang terdapat dalam puisi ini adalah kat ddengan makna aambiguitas (menyeringai), konotasi denotasi,dan perlambangan(bagai hantu) • Irama 1. Untuk irama lembut panjang rendah di gunakan tanda < 2. Untuk irama lembut panjang tinggi digunakan tanda > 3. Untuk irama keras pendek rendah di gunakan tanda # 4. Untuk irama keras pendek tinggi di gunakan tanda * Jane,(#)jane,(#) matamu(<) . Samudra luas(<) tak terduga .(>) Haus (>)dan lapar(#) . Menyeringai(#) bagai hantu(*) . • Citraan 1. Citraan penglihatan : “jane, jane, matamu”. “samudra luas tak terduga” 2. Citraan pendengaran : tidak ada 3. Citraan gerakan : tidak ada 4. Citraan perasaan : haus daan lapar 5. Citraan pemikiran : tidak ada • Pengalaman jiwa 1. pengalaman jiwa anorganik : samudra luas, hantu 2. vegetative/suasana : menyeringai 3. animal/ nafsu ; menyeringai 4. sifat manusia, : haus dan lapar 5. sifat kegamaan : tidk ada • Bunyi dan rima • Tema dan amanat • Pot dan setting • Penokohan dan perwatakan • Sudut pandang Analisis ektrinsik : • Nilai kemanusiaan dan budaya Sifat kemanusian yang terdapat dalam puisi ini adalah haus dan lapar. Badai sepanjang malam Karangan : max arivin Penerbit : Gramedia Halaman : 33 halaman Sinopsis cerita Seseorang yang lahir dan dibesarkan dikota dengan keharusan dia harus menetap di desa terpencil menjadi seorang guru muda. Desa yang jauh, angker, tidak bersahabat: panas dan debu melecut tubuh. Ia kering kerontang, gersang, namun dengan semangatnya juga dorongan istrinya mereka bisa tetap bertahan mengajar di desa tersebut.walaupun dengan berbagai konflik yang terjadi pada tokoh utama. Analisis intrnisik 1. tema Drama Badai sepanjang malam merupakan sebuah cerita tentang komentar terhadap lingkungan. Hal ini dapat kita lihat dari kutipan berikut: Saenah: [Membaca] “Sudah setahun aku bertugas di Klaulan. Suatu tempat yang terpacak tegak seperti karang di tengah lautan, sejak desa ini tertera dalam peta bumi. Dari jauh dia angker, tidak bersahabat: panas dan debu melecut tubuh. Ia kering kerontang, gersang. Apakah aku akan menjadi bagian dari alam yang tidak bersahabat ini? 2. Dialog Dialog yang dibangun dalam drama Badai Sepanjang Malam Karya Max Arifin ini merupakan dialog yang selalu bergantian, atau dialog yang teratur antara dua tokoh utama. 3. Latar atau setting Latar dalam suatu cerita drama merupakan gambaran tentang tempat, suasana, dan waktu terjadinya suatu peristiwa secara umum. Adapun latar dalam drama Badai Sepanjang Malam dapat penulis uraikan di bawah ini. • Latar Tempat Adapun latar tempat yang terdapat dalam Drama Badai Sepanjang Malam Karya Max Arifin yaitu Ruangan depan sebuah rumah desa pada malam hari. Di dinding ada lampu minyak menyala. Ada sebuah meja tulis tua. Diatasnya ada beberapa buku besar. Kursi tamu dari rotan sudah agak tua. Dekat dinding ada balai balai. Sebuah radio transistor juga nampak di atas meja. • Latar Suasana Adapun latar suasana yang terdapat dalam Drama Badai Sepanjang Malam Karya Max Arifin yaitu Suasana pada setiap dialog yang ada pada drama tersebut menunjukkan suasana penyesalan yang mengekang. • Latar Waktu Adapun latar waktu yang terdapat dalam Drama Badai Sepanjang Malam Karya Max Arifin yaitu larut malam. hal ini dapat kita lihat dari kutipan berikut: Saenah: Kau belum tidur juga? kukira sudah larut malam. Beristirahatlah, besok kan hari kerja? Jamil: Sebentar, Saenah.Seluruh tubuhku memang sudah lelah, tapi pikiranku masih saja mengambang ke sana kemari.Biasa, kan aku begini malam malam. 4. Penokohan atau Perwatakan Drama Badai Sepanjang Malam karya Max Arifin mempunyai tiga tokoh. Tapi satu tokoh yaitu Kepala Desa, hanya ada pada flashback saja. dibawah ini akan di uraikan tokoh-tokoh tersebut sesuai dengan penokohan atau perwatakkannya. • Jamil, seorang guru SD di Klaulan, Lombok Selatan, berumur 24 tahun. Dia seorang yang memiliki pendirian dan idialis sejati. Seperti pada kutipan berikut. Saenah: [Keras]Tidak! Mesti ada sesuatu yang hilang antara kau dengan masyarakatmu. Selama ini kau membanggakan dirimu sebagai seorang idealis. Idealis sejati, malah. Apalah arti kata itu bila kau sendiri tidak bisa dan tidak mampu bergaul akrab dengan masyarakatmu. [Pause] • Saenah, istri Jamil berusia 23 tahun, seorang istri yang kuat yang mau mengikuti suaminya kemanapun dan dalam keadaan apapun. seperti pada kutipan berikut. Saenah: Aku akan tetap bersamamu.Yakinlah. [Jamil menuntun istrinya ke kamar tidur.Musik melengking keras lalu pelan pelan,sendu dan akhirnya berhenti]. • Kepala Desa, adalah pemimpin yang ramah dan baik hati dalam menyambut kedatangan saenah dan jamil seperti pada kutipan berikut: Kepala Desa : Kami ucapkan selamat datang kepada Saudara Jamil dan istri. Inilah tempat kami. Kami harap saudara betah menjadi guru di sini. Untuk tempat saudara berlindung dari panas dan angin, kami telah menyediakan pondok yang barangkali tidak terlalu baik bagi saudara. Dan apabila Anda memandang bangunan SD yang cuma tiga kelas itu. Dindingnya telah robek, daun pintunya telah copot, lemari lemari sudah reyot, lonceng sekolah bekas pacul tua yang telah tak terpakai lagi. Semunya, semuanya menjadi tantangan bagi kita bersama. Selain itu,kami perkenalkan dua orang guru lainnya yang sudah lima tahun bekerja di sini.Yang ini adalah Saudara Sahli, sedang yang berkaca mata itu adalah Saudara Hasan. Kedatangan Saudara ini akan memperkuat tekad kami untuk membina generasi muda di sini. Harapan seperti ini menjadi harapan Saudara Sahli dan Saudara Hasan tentunya. 5. Alur atau Plot Alur merupakan susunan peristiwa yang terpilih dan diatur oleh pengarang secarara logis dalam hubungan sebap akibat, sehingga memebentuk suatu cerita yang utuh. Alur yang terdapat dalam drama Badai Sepanjang malam karya Max Arifin yaitu alur sorot balik atau flashback. Hal ini dapat kita lihat dari kutipan berikut: Saenah: Aku tidak berpikir sampai ke sana. Pikiranku sederhana saja. kau masih ingat tentunya, ketika kita pertama kali tiba di sini, ya setahun yang lalu. Tekadmu untuk berdiri di depan kelas, mengajar generasi muda itu agar menjadi pandai. Idealismemu menyala nyala. Waktu itu kita disambut oleh Kepala Desa dengan pidato selamat datangnya. Saenah lari masuk. Jamil terkejut.tetapi sekejap mata Saenah muncul sambil membawa tape recorder!] Ini putarlah tape ini. Kaurekam peristiwa itu. [Saenah memutar tape itu, kemudian terdengarlah suara Kepala Desa]’…Kami ucapkan selamat datang kepada Saudara Jamil dan istri. Inilah tempat kami. Kami harap saudara betah menjadi guru di sini. Untuk tempat saudara berlindung dari panas dan angin, kami telah menyediakan pondok yang barangkali tidak terlalu baik bagi saudara. Dan apabila Anda memandang bangunan SD yang cuma tiga kelas itu. Dindingnya telah robek, daun pintunya telah copot, lemari lemari sudah reyot, lonceng sekolah bekas pacul tua yang telah tak terpakai lagi. Semunya, semuanya menjadi tantangan bagi kita bersama. Selain itu,kami perkenalkan dua orang guru lainnya yang sudah lima tahun bekerja di sini.Yang ini adalah Saudara Sahli, sedang yang berkaca mata itu adalah Saudara Hasan. Kedatangan Saudara ini akan memperkuat tekad kami untuk membina generasi muda di sini. Harapan seperti ini menjadi harapan Saudara Sahli dan Saudara Hasan tentunya. ”[Saenah mematikan tape. Pause, agak lama. Jamil menunduk, sedang Saenah memandang pada Jamil. Pelan pelan Jamil mengangkat mukanya. Mereka berpandangan] 6. Gaya Bahasa Peranan bahasa merupakan hal sangat penting dalam mengungkapkan isi hati, pikiran, dan perasaan seseorang khususnya pengarang. Pengungkapan hal tersebut lebih baik apabila penggunaan bahasa itu ditafsirkan dengan gaya bahasa, yang akan menimbulkan serta memberikan keindahan, kenikmatan, dan perasaan tertentu bagi pembaca. Gaya bahasa yang digunakan oleh Max Arifin dalam drama Badai Sepanjang Malam adalah gaya bahasa sehari-hari. di bawah ini akan dibahas beberapa gaya bahasa yang disajikan oleh pengarang. Klimaks, dimana pengarang melukiskan sesuatu yang mempunyai pola struktur menaik. Hal ini dapat kita lihat pada kutipan berikut: “Suara jangkerik. suara burung malam. gonggongan anjing di kejauhan. Suara Adzan subuh.” Analisis ekstrinsik 1. Nilai budaya Budaya yang terdapat dalam drama karya max arivin ini adalah pada masyarakat pedesaan yang masil kental.pendidikan dalam drama ini pun masih menjadi kendala yang utama. 2. Nilai sosial Kehangantan dalam penyambutan seorang guru yang akan mengajar dan di sambut dengan kehangatan merupakan faktor ekternal dalam drama karya max arivin ini 3. Nilai ekonomi Masyarakat pada sebuah desa di dalam drama ini masih dalam keadaan ekonomi yang lemah. Terbukti gedung sekolah yanghampir tak bisa di perbaiki. KESIMPULAN Berdasarkan analisis dan kajian terhadap drama Badai Sepanjang Malam karya Max Arifin, maka saya dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut: • Aspek unsur stuktur atau intrinsik drama Badai Sepanjang Malam karya Max Arifin yang meliputi tema, dialog, peristiwa atau kejadian, latar atau seting, penokohan atau perwatakan, alur atau plot serta gaya bahasa tergambar dengan jelas dan utuh. • Gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang dalam drama tersebut adalah gaya bahasa sehari-hari.