Analisis Puisi
Daun
Karya Yuflian Azrial
Oleh
JEFRY ADITYA
12104/09
Jurusan Pendidkan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah
Fakultas Bahasa Sastra dan Seni
Universitas Negeri Padang
2010
Pada puisi daun karya Yuflian Azrial adalah puisi yang mengerefleksikan terhadap diri kita. Daun itu ibarat sebagai diri kita yang mana ia bisa menempatkan dirinya sesuai dengan kondisi dari pohon itu, artinya sebagai manusia yang berakal yang menjadi pemimpim di bumi ini kita harus bisa mengerti dan paham di mana diri kita di tempatkan, apa itu sebagai anak dalam keluarga, sebagai kakak dari adik, sebagai mamak dalam kemenakan, sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan masyarakat, begitu juga pemimpin terhadap yang dipimpin dan juga yang dipimpin terhadap peminpin. Supaya mereka bisa mempertanggung jawabkan kewajiban dan hak mereka.
Ada daun yang mengerti ada juga daun yang tidak mengerti, artinya di antara manusia manusia yang mengerti dan paham sebagai mana kedudukannya serta tanggung jawab terhadap kedudukannya tersebut, banyak juga di antara mereka yang tidak menerti. Ibaratkan seorang anak yang tidak paham dengan kewajiban dan haknya. Banyak sekarang ini anak yang menjadi komando dalam keluarga. Apapun yang di kehendaki anak, mau tak amau orang tua harus patuh terhadap kehendak anaknya. Sama halnya dengan istri pada saat ini yang hendak di sama ratakan posisinya dalam keluarga dengan suaminya. Fenomena suami-suami takut istri ini kerap di hubungkan dengan wanita perkasa yang memegang kendali dalam keluarga. Apapun tugas suami istri-lah yang mengerjakan, begitu juga sebaliknya tugas isrti yang seharusnya di kerjakan olehnya di embankan kepada sang suami. Dalam al-Quran Allah telah menegaskan pada surat An-Nisa ayat 34 “lelaki adalah pelindung bagi perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian laki laki atas sebagian perempuan”. Ya lelaki adalah pemimpin wanita dalam keluarga bagai manapun prosfesi atau pekerjaannya di luar dalam keluarga lelaki tetaplah pemimpin dan isrti harus menghormatinya.
Penjabat yang KKN merupakan contoh daun yang tidak mengerti. Mengeti akan janjinya memakmurkan rakyat, mengerti akan seberapa banyak dosa yang akan di pertanggung jawabkan di hadapan Allah di akhirat nanti. Egois untuk memperkaya kehidupan sendiri. Tidak kah mereka tahu bahwa uang yang di gunakannya adalah uang dari rakyat juga.
Daun itu adalah sesuatu yang bermanfaat jika ia menjadi daun yang masih segar atau pun ia telah menjadi daun yang coklat. Ketika tanah meminta kembali bersatu dengannya hingga daun itu menjadi pupuk yang kembali di butuhkan akar supaya bisa kembali di gunakan untuk membuat daun yang baru. Artinya jadilah kita seperti daun yang ketika baru jadi kuncup ia merupakan suatu harapan yang akan bisa mengganti daun yang telah gugur . dan ketika menjadi daun yang segar serta lebar ia akan mengubah carbon dioksida menjadi oksigen yang di butuhkan oleh manusia.