23 Analisis sintaksis daiam penelitian kata sawi bayi ini dengan cara menentukan fimgsi, kategori, dan peran yang dapat membentuk sintaksis, yaitu bentuk frasa, klausa dan bentuk kalimat. I. Frasa Frasa menjadi satuan gran atik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi tak klausa (Ramlan, 2001, him. 138 & 139). Frasa memiliki dua sifat, yatu: a) Frasa merupakan satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih b) Frasa merupakan satuan yang tidak melampaui batas fungsi klausa, maksudnya frasa itu pasti tersedia dalam satu fungsi tak klausa 2. Klausa Klausa adalah satuan gramatik yang terdini dari SP baik striker O, PEL. dan KETukah tidak. Dengan ringkas, klausa itu S P to) (PEL) (KET) Tanda kurung menandakan bahwa apa yang ada dalam kurung itu bersifat manasuka, memang perlu ada, boleh juga tidak ada (Ramlan, 2001, dia 79). 3. Kalimat Setiap satuan Kalimat yang dibetasi oleh adanya jeda panjang yang memperhatikan nada akhir turun atau naik. Sesungguhnya yang menentukan saluan kalimat bukarnalah yang menjadi tidak ada, tidak ada intonasinya (Ramlan, 2001, dia. 21). Analisis kiausa periode makna-umsumya 4. Analisis klausa berdasarkan fur.gsi-fungsinya, menurut Ramlan (2001, hlm. 93) terdiri atas S (subjek). P (predikat), O (objek), PEL (pelengkap), dan KET (keterangan) Menurut Verhaar (dalam Chaer, 2015, h. 20) menjelaskan fungsi adalah kotak-kotak atau tempat-tempst dalam struktur sintaksis yang kedalamannya akan disikan kategoni-kategori tertentu. Kotak-kotak ilu benama subjek (S), predikat (P), objek (O% komplemcn (Kom), dan keterangan (Ket) Menurut Chaer (2015, hhn. 27) yang memprihatinkan kategori sintaksis adalah jenis atau tipe kata frase yang menjadi pengisi fungsi-fungsi sintaksis Kategori sintaksis berkenaan dengan istilah nomina iN), verta (V) ajektifa (A), adverbial (Adv), aumeralia (Num, preposisi (Prep), konjungsi
Selasa, 10 Juli 2018
Sintak 29
29 2.6.5 Rima Menurut Aminuddin (2004, dia 137). rima merupakan bunyi yang berselaing atau berulang, baik dalam larnk puisi maupun pada akhir larik-larik puiši. Sedangkan menurut Altenbernd dan Leslie L Lewis (dalam Badrun, 2003, hlm 28-29) menyebutkan bahwa rima adalah baris-baris sajak yang mengandung rima atau memiliki skema rima jika suku kata terakir dari kata-kata yang menduduki posisi aklir memiliki bunyi yang sama. Akbir kata adalain vokal dari suku kata terakhir yang diberikan dan bunyi-bunyi yang lain yang mengikutinya. Menurut Pradopo (2009, hlm. 37) rima yang banyak dipergunakan sebagai bagian kepuitisan dalam puisi Indonesia adalah sajak akhir, sajak dalam, sajak tengah, aliterasi, dan asonansi. Kosasih (2003, hlm. 210) rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi. Rima berfingsi untuk menampilkan musikalitas atau orkestrasi Dengan adanya tima kemudian bunyi makna yang dikehendaki penyair dapat lebih indah dan makna yang ditimbukan pun semakin kuat Ritma adalah sebagai pengulangan kata, fłasa, atau kata-kata dalam umpan-umpan puisi. Rima ada dalam setiap larik dan umpan dalam sebuah sajak. Waluyo (1995, hilm. 90) mengemukakan bahwa rima adalah pengulangan bunyi dalam bentuk untuk musikalitas atau orkestrasi, Dengan pengulangan bunyi itu kemudian menjadi kusdu kita dibaca Penilaian bmyi-bunyi akan mendukung perasan dan suasana piusi 2.6.6 Irama Sawér yang puisi yang diuturkan dengan cara diny bernyanyi atau ditembangkan. Atas dasar itu, dalam penelitian ini pertu menganalisis fornula iramanya. Irama menurut Pradopo (2009, hlm. 40) adalah pergantian turun panjang pendek, keras, lembut, ucapan, bunyi, bahasa-bahasa, dan sebagainya. Pradopo juga membagi irama menjadi dua macam, yaitu metrum dan rime. Metrume adalah irama yang tetap, artinya pergantiannya sudah tetap berdasarkan pola tertentu. Hal tu disebablan jumlah suku kata yang sudah tetap dan tckanannya yang sudah tetap untuk suara yang imenaik dasi menunun itu terap sagja Ritme adalah irama yang discbabkan pertahapandan pergantian bunyi tinggi rendahi teracur
Sintak 28
28 2.6.4 Majas Majas merupakam paralelisme makna. Majas memiliki fuigsi untuk mungkongkretkan dan ganti karangan. Moeliono (dalam Badrun, 2003 blm. 36) Kemudian memurnt Pradopo (2009, bim, 61-62), majas menjadi salah satu alat kepuitisan yang dapai menyebabkan puisi menjadi menarik perhatian. membangkitkan kesegaran, hidup, dan mengatur kejelasan angan. Menurut Sudjiman (dalam Nuraini, 2015, hir. 24) majas adalah kata kunci yang melewati batas-batus makranya yang bermalas-malasan atau menyimpang dari arti fotografinya. Sedangkan monurut Luxemburg (dalam Nuraini, 2015, hlm. 24) majas merupakan paya semantik yang mengoreksi pada makna kata, bagian kalimat, dan kalimat., Fungsi dari gagasan untuk makna, makna, makna dan makna. menurut, Agi (2008, hlm. 11) majas merupakan gaya bahasa dalam bentuk tulisan dan lisan yang digunakan dalam karangan yang bertujuan untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran dari pengarang. Perrine (dalam Muzakir, 2014 hlm 19) mengatakan balıwa bahasa figuratif dini lebih efesitif untuk menvatakan apa yang ditanggknn penyair, karena: (1) bahasa figuratif manpu menghaskan nafsu imajimatif, (2) batasa figuratif adalah cara untuk meningkatkan imaji tambahan dalam paisi, yang seperti ini jadi konkret dan isi puisi lebia nikmat dibaca; (3) bahasa figuratif adalah cara mmenambah iniensitas perasaan penyair mtuk puisi dan menyampsikan sikap penyair, (4) bahasa figuratif adalah cara untik mengkonsentrasikan makna yang ingin disampaikan dan cara menyampaikan sesuatu Fang banyak dan luas dengan bahasa singket Menurut Moeliono (dalam Badrun, 2003 , hlm 36) babwa majas dapat dibedakan menjadi tiga macam: majas atau identitas majas, majas pertentangan, dan majas pertau: an atau majas kontiguitas. Majas perbandingan tuehputi perumpamaan, metafora, dan penginsanan. Yang termasuk majas pertentangan adalah ironi, hiperbola, dan litotes, sedangkan yang termasuk bagian utama adalah metonimia, sinekdoke, kilatan, dan eulentisme.
Sintak 27
27 antar bunyi yang ada di dalamnya juga akan ter ganggu karena susunan kata tersebut memimbuikan efek psiklogis 3. Daya Sugesti Kata-kata Sugesti ditinbulkan oleh oleh makna kata yang tepat sangat tepat untuk perasaan penyair. Karena ketepatan pilihan dan ketepatan penempatannya, maka kata-kata itu seperti memancarkan daya gaib yang mampu memberikan daya sugesti kepada pembaca untuk ikut sedih, terharu, bersemangat, marah dan sebagainya, Menurut Widjono (2005, hlm. 87) terdapat 4 indikator ketepatan kata, antara lain: I. Mengomunikasikan gagasan berdasarkan pilihan kata yang tepat dan sesuai berdasarkan kaidah 2. Menghasilkan komunikasi (yang paling efektif) tanpa salah penafsiran 3. Menghasilkan respons pembaca atau pendenger sesuai dengan harapan penulis 4. Menghasilkan target komunikasi yang diharapkan atau salah makna; atau cerdar 2.6.3 Pararelisme Pararelisme menurut Keraf (2010, him. 126) adalah gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejahtcraan dalam pemakaian kata-kata atau frasa- frasa yang memiliki fungsi yang sama. Kesejajaran itu dapat berupa bentuk anak-anak Kalimat yang bergantung pada induk kalimat yang sama. Finnegan (dalam Badrum, 2003, hlm. 35), mengartikan pararelisme sebagai sarana struktural dalam berbagai bentuk reprisi dan dapat menjadi satu bagian dalam prosodik puisi. Paralelisme adalah gaya bahasa iengan pengulangan yang sering digunakan dalam puisi Paralelisme dspat dibedakan menjadi dua yaitu, anafora dan efifora a) Anafora merupakan gaya bahasa pengulangan kata atau keiompok kata pada bagian awal puisi atau lagu. b) Efifora menupakan gaya hahasa peniegasan dengan pengulangan kata atau ketompok kata pada bagian akhir puisi atau lagu
Sintak 26
26 memahami, mengatur, dan menggunakan berbagai kosa kata secara aktif yang dapat digunakan secara efektif memungkinkan untuk mengirim informasi ke pembaca ataiu pendengamya. Menurut Badrun (2003, hlm. 34), kemampuan memilih kata menjadi syarat utama bagi penyair dalam seperangkat puisi. Proses memilih kata dalam puisi dan kata-kata yang digunakan Untuk kata-kata yang dapat diperbaiki, proses sebaliknya berlangsung dengan cepat dan tidak dapat diulang. Kata-kata yang digunakan adalah yang bermakna denotasi, konotasi, dan majasi Selanjutnya, Pradopo (2010, him 54) mengemukakan bahwa kata kunci dalam sajak disebut juga dengan diksi. Kemnampuan penyair dalam mengungkapkan ide, ide atau curahan perasaannya dilihat dari diksi yangurusnya. Seorang penyair menggunakan kata suasana atau jiwanya haruslah memilih kata-kata yang tepat untuk digunakan. Sedangkan menurut Waluyo (dalam Muzakir, 2014. dia 1-18) menjelaskan bahwa kata-kata dalam sajak adalah konotatif atinya yang memiliki makna makna yang lcbih dari satu. Kata-kata yang dipilih adalah kata-kata g imempunyai efek keindahan dan berbeda dari kata-kata yang kita pakai dalam kehidupan sehari-hari Waluyo (dalam Muzakir.2014 him 17-18) tiga sumbe asp itu diksi, yaitu 1. Perbendaharan Kata Perbendcharaan kata Sangat penting untulk kekuasaan ekspresi, selain itu untuk menunjukken ciri khas penyeir Dalan memilh kuta-kata penyair memilib berdasarkan makna yang akan disaunpaikan, tingkat perasaan, suasana batinnya, dan juga dilatarbelakangi oleh faktor sosial budaye peayair 2. Urutan Kat Urutan kata sifat baku tidak dapat dipindah-pindahkan tempatırya meskipun maknanya tidak berubah oleh tempat berlimpahan itu. Penyair telah memisahkan secara matang susunan kata-kata. Jika diubah urnstannya, maka daya magis kata-kata iu aban hilang Keharmonisam
Sintak 25
25 h) Unsur pengisi Syarat makna pengalam i) Unsur pengisi Sidang makna dikeal j) Unsur pengisi Sentu makna terjumlah Makna kejujuran Benda pertama (Ramlan, 2001, hlm. 108) adalah a) Unsar pengisi Oferensi makna penderita b) Unsur pengisi Oentu makna penerima c) Unsur pengisi Oferensi makna d) Unsur pengisi Oentu makna alat e) Unsur pengisi Oferensi makna hasil Makna tak terkecuali objek (Ramlan, 2001, hlm. 112) adalah a) Unsur pengisi O menyatakan makna penderitaan b) Unsur pengisi Oferensi makna hasil Makna unsur pengisi (Ramlan, 2001, hlm. 113) adalah a) Unsur pengisi PEL menyatakan makna penderitaan 'b) Unsur pengisi Oosional makna alat Makna tidak ada nama keterangan (Ramlan, 2001, llm. 114) adalah: a) Unsur pengisi KEferensi makna 'tempat b) Unsur pengisi KETferensi makna waktu c) Unsur pengisi KETerhana makna cara d) Unsur pengisi KETferensi makna penerima e) Unsur pengisi KET menyntakan makna Peserta f) Unsur pengisi KETferensi makna alat g) Unsur pengist KET menyatalian makna sebab h) Unsur pengisi KETferensi makna i) Unsur pengisi KETferensi makna 'keseringan' j) Unsur pengisi KETferensi makna 'perbandingan k) Unsur pengisi KET menyatakan makna perkecualian tempat 2.6.2 Kata Pilihan (Diksi) Widjono (2005, dia. 87) menjelaskan diksi adalah ketepatan Pemilihan Kata Penggunaan ketepataa Kata-kata ini digunakan oleh kemampran penggunaan bahasa yang berhubungan dengan kemampuan mengetahui,
Sintak 24
24 (Konj), dan pronominal (Pron) berjudul analisis klausa berdasarkan kategori kata atau frase yang menjadi unsunya, adalah sebagai berikut (Ramlan, 2001, dia. 93) NN BilvFD: N: N / VBil: Ket / FDIN PEL KET Keterangan Bil FD Ket Nomina verba Bilangan Frase Depan Keterangan Menggambarkan klausa periode makna-unsumya, mencakup beberapa faktor yang menyatakan makna pada predikat, subjek, objek (objek pertama dan objek kedua), pelengkap, dan l: eterangan. Makna unsur pengisi pada predikat (Ramlan, 2001, hlm. 95) adalah: a) Unsur pengisi Pferensi makna perbuatan b) Unsur pengisi Pferensi makna 'keadaan c) Unsur pengısi Pferensi makna' gerak 'd) Unsur pengisi Pidang makna pengenal e) Unsur pengisi P 'menyatakan makna' jumlah f Unsur pengisi Pemasan makna 'pemerolehain Makna tidak ada batasan subjek (Ramlan, 2001, hlm. 100) adalah: a) Unsur pengisi Sidang makna b) Unsur pengisi Sentu makna alat c) Unsur pengisi Sidang makna 'scbab' d) Unsur pengisi Sferensi makna penderita e) Unsur pengisi Sidang makna hasil 1) Tidak ada pengisi Sidang makna 'tempar g) Unsur pengisi Sidang makna penerima
Sintak 22
meliputi: formula sintaksis, formula bunyi, formula irama, maias, diksi dan tema. 2.6.1 Sintaksis Sintaksis berasal dari bahasa Belanda yaitu syintaxis, dalam bahasa Inggris kata sintaks kata, sama memiliki arti secara berbarengan. Dalam linguistik, sintaksis berkaitan erat dengan kaidah dan proses pembentukan kalimat (Damaianti, 2005, h. M. 1), Sementara menurut Chaer (2003, him. 206) sintaksis kata dalam kaitan dengan kata lain, aíau tidak-lain disebut-sebut. satuannya. Menurut Ramlan (2005, hlm.18) juga mengemukakan bahwa sintaksis merupakan bagian atau cabang dari bahasa inggris scluk-beluk wacana, kalimat, klausa, dan frasa. Analisis sintaksis untuk mengetahui keberterjawaban kalimat, bukan saja dari kata kerja kalimat, tidak dapat dianalisis bersama-sama dengan kategori peran (makna) kalimat, dan fungsi (Damaianti, 2005, hlm. 3)
Senin, 09 Juli 2018
Pd konteks
31 yang enak didengar dan untuk menyokong makna kata tertentu (Siswantoro, 2010. hlm. 141) 2.7 Penuturan Kontcks merupakan peristiwa yang sangat berhubungan dengan kejadian (KBBI, 2008, hlm. 728). Sedangkan penuturan adalah proses, cara, perbuatan menuturkan, pemberitaan, bicara, uraian tentang hal hal (KBBI, 2008, hlm. 1231) Menurut Sibarani (2012, dia. 322) menjelaskan peranan yang sangat penting dalam kajian tradisional lisan. Pemaknaan teks-teks lingual yang tidak menyebutkan nama-nama lisan lisan sangat tergantung peda konteksnya. Misalnya, sebuah teks inisiatif lisan akan makna yang berbeda, maksud, dan fungsinya tergantung pada referensi konteksnya. Konteks pemilihan itu sangat bergantung pada ragam ungkapan atau teks yang dikaji. Dalam kajian tradisional lisan, konteks budaya. konteks sosial, konteks, dan konteks idiologi perlu dikaji dalam memahami makna, maksud, pesan, dan fungsi tradisi lisan, yang ada diperlukan untuk memahami nilai dan norma yang ada dalam tradisi lisan dan memahami kearifan yang diperlukan untuk menata kehidupen sosial. Koentjaraningrat (1981, dia. 7) mengemukakan bahwa orang-orang yang ada adalah yang universal, yang memungkinkan unsur-unsur budaya yang dapat ditemukan dalam semua hal yang disebut dunia, tidak ada unsur-unsur yang disebut sebagai budaya universal di mana Kouteks penuturan adalah se khusus yang ditandai dengan adanya interaksi di antara unsur-unsur pendukungnya secara khusus yaitu percakapan dengan pembicara dan pendengar atau yang diajak bicara, pertunjukan bertutur, tuijuan bertutur, dan terkait dengan lingkungan dan masyarakat pendukungnya (Rakem, 2008, hlm. 20-21). penuturan dapat dipahami jika masalah dengan konteks dan konteks budaya. Konteks adalah lingkungan atau tempat pemutaran berlangsung. Menunit Halliday dalam Badrun (2003, dia. 38). konteks kerja atau tempat berlangsungnya racun memiliki tiga unsur, yaitu
Pd asonansi
30 tetapi tidak merupakan suku kata yang tetap, hanya menjadi gema dendang sukma penyaimya (Pradapo, 2009, hlm. 40). Irama adalah bunyi yang menghasilkan unsur musikalitas, baik berupa alunan keras-lunak, ringgi-rendah, panjang-pendek, dan kuat yang secara keseluruhan mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana dan nuansa makna tertentu. Menurut Aminuddin timbulnya irama itu selain akibat penatann rima, juga akibat dari eksositif dan intonasi serta tempo sewakfu sebelum pembacaan secara lisan (Aminuddin, 2011, hlm. 137). Dalam penelitian tentang puisi, irama akan diartikan sebagai panjang pendeknya bunyi secara teratur dan bukan merupakan suku kata yang tetap, tidak kreatifitas dari penuturnya Guru sawer). 2.6.7 Asonansi dan Alitrasi Luxemburg (1989, hlm. 91) mengungkapkan bahwa asonansi merupakarn pegulangan bunyi vokal sementara aliterasi pengulangan bunyi konsonan. Hal yang sama juga oleh Keraf (2010, hm. 130) megalakan bahwa asonansi adalah gaya bahasa yang berwujud penulangan bunyi vokal yang sama, sedangkan alitcrasi adalah gaya bahasa yang berwujud pengulangan kosnsonan yang sama Selanjutnya, Preminger (dalam Badrun, 2003, hlm. 29-30) mengatakan bahwa asonansi adalah pengulangan bunyi-bunyi atau suku kata yang sama dalam dua kata atau lebih dalam satu beberapa larik yang menghasilkan efek-efck artistik yang nyata. Aliterasi adalah sesuatu yang dapat menghasilkan atau bunyi yang indah atau tidak sama dengan efek akhir dari Siswantoro (2010, dia. 136) juga mengungkap bahwa aliterasi mencakup dengan pengulangan bunyji konsonan di posisi akhir atau di posisi awal kata. Fungsinya adalah untuk memberikan efek suara yang enak didengar ke dalam bentuk, dan memberikan makna untuk kata di mana bunyi konsonan yang diulang Selanjutuya, asonansi menujuk ke pengulangan bunyi hidup atau vokal. Funesinya adalah untal: menciptakan rangkaian bunyi
Pd rima
Pd 23
Buku ini adalah buku yang membahas semua masalah yang terkandung dalam pepatah petitih Minang secara menyeluruh. Buku ini mengungkap sebagian pepatah petitih yang populer dalam masyarakat dan men-ciptakan Maknanya lebih mudah dengan Buku ini teidiri atas 7 bab, yang setiap babnya memiliki hubungan. Bab I berisi pendahuluan, yang memaparkan keunggulan (ekselensi) yang dikandung oleh pepatah petitih Minang. Dalam bab ini juga beberapa contoh pepatah petitih yang begitu mendalam maknanya. Dengan bab Il sampai bab VII merupakan bahasan pepatah petitih Minang yang tidak dikelompokkan. Pengelompokan ini merupakan upaya mempermudah pembaca dalam mercarius pepatah. Setiap kelompok memuat pepatah petitih yang kira-kira bersama memutar diucapkannya. Keajaiban-keajaiban yang dikandung pepatah petitih Minangkabau mendorong kita untuk terus mempelajar: makna pepatah petitih tersebut. Jika seseorang semakin menguasai pepatah petitih Minangkabau dan mengucapkannya tepat sesuai dengan kondisi dan masalah, tentu kita akan menyelesaikan masalah.
Pd 22
Pepatah petitih Minang kadang-kadang disebut juga peribahasa. Namun, tidak semua orang (Indonesia) dapat memasukkan ke dalam kategori pepatah petitih Minangkabau Pepatah petitih Minangkabbu dapat memasukkan ke dalam peribahasa Indonesia yang kini mulai banyak orang yang ditulis. Akan tetapi, isi buku-buku yang tidak pernah sama dengan pepatah petitih yang memang sudah digali dan disusun oleh nenek moyang orang Minang dari bumi dan Ranah Minang Selain dari bentuk buku, upaya melestarikan dan menyosialisasikan pepatah petitih Minangkabau terlihat dari kegiatan para musisi dan penyanyi Minang modern. Dalam lagu-lagu Minang yang menggunakan rekaman, kadang-kadang isi pepatah dan petitih Minang juga diselipkan lagu-lagu yang bertemakan kemasyarakatan lebih abadi dan lebih meresap bagi sebagian pendengarnya. Hal initerutama dilakukan oleh pencipta lagu Minang yang berkonotasi nasihat, seperti yang dilagukan oleh penyanyi Asben. dlam salah satu lagunya terselip pepatah petitih minang yang berbunyi: Salah ambiak mangumbalikan, salah cotok melantingkan. (Salah ambil jawab, salah catuk melentingkan). Maknanya: Suatu ketentuan hukum yang berlaku dalan masyarakat, ketika telanjur melakukan salah mengucapkannya meminta maaf, dan ketika telanjur mengambil barang milik orang lain haruslah bagi mereka yang berhak. Pepatah ini juga menyiratkan bahwa orang Minangkabau sangat mencintai tegaknya hukum, tanpa bulu, sertamangutamakan kepentingan masyarakat dibandingkan dengan diri sendiri.
Pd 21
Berlayar ke pulau bekal Bawa saraut dua tiga Jika kail panjang sejengkal janganlah laut ingin di duga. ng Bila sampiran di atas dibuang, adalah pantun akan sama dengan pepatah petitih yang berbunyi: Jikok kaia panang sejangka jan lah lauik andak didugo. (Jika kail panjang sejengkal janganlah laut inginimbang). Maknanya: Jikalau ilmu pengetahuan yang digunakan belum banyak, seharusnya tidak menandingi orang yang pintar sudah banyak ilmunya. Hal ini karena seseorang yang tidak memiliki banyak ilmu tidak akan sanggup melawan orang yang sudah ahli. Pepatah petitih ini juga memerintahkan seseorang agar berhati-hati sebelum melangkah agar tidak menimbulkan kekecewaan bagi dirinya sendiri. Seseorang perlu disombongkan karena masih ada orangyang lebih ahli, atau lebih banyak: lebih dari yang bisa dilakukan oleh mereka, setiap pepatah petitih yang ada dapat dibuatkan pantunnya menurut kehendak seseorang. Oleh sebab itu, pantun berhubungan dengan pepatah petitih erupakan ajaran, perumpamaan, sindiran, atau kiasan, menjadi bentuk kesenian dan sastra Minangkabau. Baik pantun dan pepatah petith Minangkabau yang sudah dengan susah payah digali oleh nenek moyang orang Minangkabau, perlu dilestarikan dan disosialisasikan PT. Zamungan kedua cabang kesenian itu Minangkabau karena keduanya selain dapat mukan memperkaya dan mernperdalam rasa budaya tersebut 21
Pd 20
tidak semua pantun dapat menjadi pepatah petitih setelah dibuang sampiran dari pantun. Contoh: Pantun 1: Limo koto jo Kampuang Dalam Pariaman jalannyo licin Kapalo nan samo hitam Pandepak balain-lain. jan lah l (Jika ka Lima Koto dan Kampung Dalam Pariaman Jalannya licin kepala yang sama hitam Pendapat berlain-lain. Jika sampiran pantun di atas dihilangkan, tinggalah isi pantun: Kapalo nan samo hitam, pandepak balain-bain. Isi pantun di atas memang sama dengan bunyi pepatah petitih Minang yang berbunyi: Kapalo nan samo hitam, pandepak balain-bali. (Kepala yang sama hitam, istri berlain-lain). Maknanya: Setiap manusia itu berbeda. Hanya rambut yang sama-sama hitam, anggap selalu berbeda-beda Tidak ada kata benda yang sama dengan mereka yang berasal dari orang tua yang sama, hidup dalam lingkungan dan memiliki pengalaman yang sama, tidak menjadi orang yang berbeda dan yang berbeda dibuat, itu adalah Minang yang berbeda-beda. Contoh pantun 2: Balaia ka pulau baka dan sas Minang moyan Bao sirauik duo tigo Jikok kaia panjang sajangka dapat m Jan lah lauik andak didugo.
Pd 5 19
Keajaiban yang dikandung oleh pepatah peth Minangkabau banyak. Hal itu membuktikan bahwa nenek moyang yang menggulirkan atau menggalinya pada zaman benar-benar benar-benar membutuhkan perhatian untuk nenek moyang yang telah berhasil menggali, mengkaj, dan menyampaikan banyak sekali pepatah petith Minangkabau. Satu pepatah atau petitih Minang biasanya berisikan kata-kata atau kata-kata. Banyak kalimat yang dilontarkan dalam obat pepatah atau petitih yang berisikan hal-hal yang sederhana, arti darn maksudnya, namun sangat mendalam. Kadang-kadang kata atau kalimat yang berisi pepatah petitih itu banyak berisikan kiasan, sindiran, ajakan, atau la angan secara halus untuk dibaca oleh setiap orang yang ingin selamat. Di dalam pepatah dan peptitih yang terkandung banyak sekali kaidah, aturan yang sangat penting dalam kehidupan bersama, atau dalam pergaulan antarmanusia sehari-hari. Banyak pesan pendelk yang ada dalam pepatah petitih tidak langsung tidak langsung). Hantu satu untuk sebagian orang untuk mengambil pengertian atau maknanya. Kata-kata yang tersedia dalam pepatah petitih Minang tidak semuanya mudah untuk dipahami oleh orang-orang yang datang kemudian, terutama oleh mereka yang tidak ada dalam suasana keminangan, atau tidak lagi hidup dan bergaul dalam budaya Minang. Oleh sebab itu, buku ini memublikasikan lebih lanjut makna kalimat yang dikandung oleh pepatah petitih. Sebagian penulis mengatakan bahwa pepatah petitih Minang memiliki erat dengan pantun Minang. Bila sampiran (biasanya dua pesan pertama) pantun dibuang, tinggalah isi pantun itu. Isi pantun tersebut atau disamakan dengan pepatah petitih. Hal ini memang benar untuk sebagiannya, tetapi 19
Pd 4 18
hati, jangan sampai keseleo lidah dan menyinggung perasaan seseorang atau sakit Ke sanga yang benar nenek menya Su atau k pepata maks atau k kiasa diper pepat yang dalam yang (indir peng hati orang lain yang mendenganya Bila kata-kata yang adalah pepatah petitih dalam h 3, kita telaah kedua kalimat pendek, bersajak, dan enak untuk didengar. Makna yang dikandung oleh kedua kalimat itu untuk orang yang akan merusak agar selalu berhati-hati, baik dalam melangkahkan kaki maupun dalam mengucapkan kata-kata atau buah pikiran. -hatian di rlu dimiliki oleh setiap orang yang akan melakukan pekerjaan adalah apa pun sifatnya, agar tidak terjadi penyesalan pada hari atau setelah selesai pekerjaan. Jika seseorang melangkahkan uang secara sembronp, tanpa melihat apa yang akan dinjaknya, maka waktu akan menyesal Karena sudah salah melangkah. Namun, penyesalan tidak akan bermanfaat bila timbul setelah jadi cedera ontoh pepatah petitih yang dikemukakan di atas, terlihat bahwa kata-kata yang mengandung dalamursi pepatah merupakan kata pilihan, bukan sembarang kata. Kata-kata bunyi kata itu diusahakan bersajak, orang lain melihat dari jumlah suku kata atau maknanya yang cocok sekali dengan apa yang akan disampaikan oleh pepatah dan petitih itu. Di sinilah letak karya-karya pepatah dan petitih Minang yang telah digali dari dalam budaya Minangkabau oleh nenek moyang Minang sejak dahulu kala. Bukan saja bunyinya yang enak didengar, tidak ada yang mengandung pengertian yang mendalam. Keajaiban berikutnya juga terlihat dari cara penyampaiannya. la dapat mengandung anjuran, guru, larangan, atau sesuatu yang telah mendapat perhatian dari orang lain sem kemu buda ebih Mina (bias isi p pepguna. 18
Pd 4
Minang. Ditengah-tengah semakin gencarnya dunia, buku tentang ranah dan budaya Minangkabau. Hal ini disebabkan banyak orang yang tidak ingin menulis setelah mengisi beberapa penulis dari Minang yang selama ini memenuhi pasar perbukuan, seperti A.A. Navis A. Kadir Usman, S.H., Chairul Harun, dan lain-lair. Mendalami masalah isi bahasa dalam pepatah petitih Minang, secara umum tidak sedang belajar menggunakan bahasa Minang. Pepatah petitih Minang digubah dalam bahasa Minang. Oleh karena itu, ekspor pepatah petitih tanpa bahasa Indonesia Minang tidak mungkin akan bisa diresapi jika kita tidak menggunakan bahasa Minang. Pepatah petitih Minang dalam hal ini sangat menyatu, tidak mungkin dapat dilepas dengan bahasa Minang. Banyak keajaiban yang termuat di dalam ruangan pepatah pepitih Minang. Kadang-kadang akhir kata kalimat-kalimat yang dipih bersajak Brandenburg enak didengar Contoh 1: Alu tatarung patah tigo, samuik dipijak indak mati. (Alu lawung patah tiga, semut diinjak tidak mati). Maknanya: Sifa kekenyalan atau kelemahlembutan sessorang dalam kamar atau proses dalam ketegasan terkandung sifat kelemanlembutan. Sifat-sifat inilah yang dikehapus masyarakat. la tegas, tetapi dilakukan dengan cara yang lemahlembut. Tegas dalam menegakkan kebenaran, tetapi penuh dengan kebijaksanaan. Kadang-kadang pepatah petith diatas ditijukan pada sifat seorang wanita yang berjalan melenggang lenggok, lem ah gemulai. Namun, di balik kelemahgemulaiannya 16
Pd 3
Bila tidak ada usaha orang tua Minang untuk mengerem masa-masa kritis dan berbahaya bagi adat budaya Minang ini, tata krama budaya itu akan pupus tanpa bekas di tengah-tengah kehidupan mereka yang masih menemukan bahwa mereka tetap orang Minang. Bila orang Minang tidak tahu dan tahu lagi etika dan budaya Minang, tidak kenal lagi pepatah pepipth Minang, dan tidak suka lagi pada pantun-pantun Minang.riwayat masyarakat Minang yang sela.ma ini dikenal orang sebagai orang yang kaya budaya akan tamat. Minangkabau hanya tinggal nama, sementara isinya sudah ditukar orang dengan budaya lain yang sangat membosankan.seperti kata pepatah pepitih Minang: cupak lah dialiah urang panggaleh, jalan lah díasak dek urang lalu. Dalam kondisi demikian orang Minang sebenarnya telah dikicuh tegak-pendek oleh budaya asing yang merambah ke dalam sanubari generasi muda. Ditengah-tengah suasana demikian buku "Keajaiban Pepatah Minang" ini diterbitkan. Dengan harapan akan dapat menjawab pertanyaan yang selama ini dilemparkan bahwa bagaimana generasi muda Minang akan dapat mengetahui dan melestarikan budaya Minang itu jika tidak ada buku yang mengupas tentang seluk beluk Budaya Minang itu sendiri. Kelahiran buku ini digunakan untuk memperkaya khazanah budaya yang lebih terdistribusi dan dapat dipelajari ulang oleh para murid muda Minang. Bila buku ini mengupas tentang keajaiban pepatah Minang, diharapkan akan muncul lagi keajaiban-keajaiban yang mengupas sektor budaya Minang yang lain. Saat ini Minangkabau sangat langka ditemukan di pasaran. Kita sulit menemukan buku-b'iku yang mengupas tentang budaya, sejarah, atau kehidupan masyarakat 15
Pd 2
Dahulu jika ingin melakukan tugas, nenek moyang kami lebih sering menggunakan bahasa pepatah dan pepith. Mereka jarang mengucapkan maaf secara langsung (untuk mengarahkan) kepada lawan bicaranya, karena dalam kebiasaan orang Minang, hal terang yang dianggap kurang sopan, sangat membantu jika lawan bicara itu sangat disegani atau orang terpandang. ma ta te te Di Ranah Minang, orang yang mampu mengutarakan pikirannya dalam ruangan pepatah pepitih akan dianggap sebagai orang hebat dan sangat disegani masyarakat. Kebiasaan lokal menggunakan pepatah pepitih seperti itu masih banyak ditemukan kampung-kampung daerah Minangkabau. Di kota-kota yang sudah dirasuki oleh budaya barat yang sangat cepat, instan melalui pepatah pepitih Minang sudah jarang dilakukan. Masyarakat kota menganggap cara-cara melahirkan seperti itu tidak dapat sesuai dengan hari modern yang serba terus terang Namun, mereka masih mengakui bahwa yang dimasukkan dalam pepatah pepitih Minang itu masih diperlukan dalam upacara- upacara adat yang dihadiri oleh komunitas acara lebih tua. Bila cara menguasai generasi muda ini mendominasi kehidupan masyarakat Minang, lama-kelamaan mengumumkan pepatah pepitih Minang akan cepat mereka lupakan. Jangankan generasi muda yang lahir sekitar 20-30 tahun kemudian, generasi yang dilahirkan bulan pergolakan daerah (1960-an) pun banyak yang tidak tahu lagi akan makna pepatah pepitih Minang itu. Inilah tantangan yang perlu dijawab dengan segera oleh generasi yang lebih tua. Mereka ditantang untuk melakukan, sekali lagi bebuat, dan tidak hanya melakukan pertunjukan di tengah gelanggang adu kekuasaan budaya ini. 14
PD 1
PENDAHULUAN lihat dari segi fisiknya, pepatah pepitih adalah susunan kalimat pendek, yang kadang-kadang bunyinya berirama beraturan. Oleh sebab itu, ada yang menganggap bahwa pepatah petitih Minang ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kesusastraan Minangkabau. Di samping pantun Minang yang telah kami diketahui selama ini, pepatah pepitih Minang yang memiliki berbagai keunggulan Kedua komponen sastra (pantun dan pepatah) yang telah ikut memperkaya budaya Minang ini, ketika ditelusuri, ternyata berisi makna yang sangat mendalam. Komponen sastra itu telah digali dan diasuh oleh nenek moyang orang Minang semenjak dulu kala. Nilai dari makna yang itu tentu manusia-manusia tidak sembarangan, di samping cerdas, mereka benar-benar benar dan menghayati Alam Terkembang Jadi Guru '. Hampir semua pepatah itu mewujudkan alam semesta ini menjadi orientasi pokoknya. la berisi kiasan ibarat, perumpamaan, nasihat, petuah, dan sopan santun yang tidak ternilai harganya. 13
18
18 konsep pantun yang dijelaskan oleh Liaw Yock Fang, yaitu pantun merupakan puisi rakyat yang dinyanyikan atau sama dipesan dengan dilisankan. Dr. R. Brandstetter, seorang ahli bahasa apa yang berasal dari Swiss, mengatakan bahwa kata pantun berasal dari akar kata tun, yang tersedia dalam bahasa Indonesia, misalnya dalam bahasa Pampanga, tuntun yang berarti teratur, dalam bahasa Tagalog ada tonton yang bermakna bercakap menurut aturan tertentu; dalam bahasa Jawa kuno, tuntun yang berarti benang atau atuniun yang bermakna dan matuntun yang bermakna memimpin; dalam bahasa Toba pula ada kata pantun yang berarti kesopanan, kehormatan. Berbeda dengan penemuan Van Ophuysen dalam Hamidy (1983, him. 69) konteks pantun itu berasal dari bahasa daun-daun, setelah dia melihat Ende-ende Mandailing dengan mempergunakan daun-daun untuk menulis surat-menyurat dalam percintaan. Orang-orang Melayu di Sibolga diajar untuk memberi makan ikan belanak kepada mereka, dengan harapan agar acara itu beranak Temuan dani Van Ophyusen berbuka RJ Wilkinson dan R. O Winsted dalam Hamidy (1983, hlm. 69) dengan menyebutkan asal mula pantun seperti dugnan Ophuysen itu. Dalam bukunya "Sastra Melayu" pertarma terbit tahun 1907, Wilkinson malah balik bertanya, tidakkah hal itu harus dianggap? "" Jadi bukan pantun yang berasal dari bahasa daun-daun, tetapi bahasa daun-daunlah yang berasal dari pantun. Hipotesis Ophusyen tentang bahasa daun yang digunakan untuk kata-kata pemuda dan pemudi di Batak di atas mendapat apresiasi dari Dr. C Hooykaas Menurut dia, keadaan seperti itu menunjukkan bahwa dalam perjalanan kehidupen pantun, pergelaran lambang-lambang untuk perumulan makna selalu disisipkan. , ia menyampaikan contoh antara hadimya lambang itu dengan "kuatmya" kegemaran masyarakat dalam berpantun. Beberapa contoh disampaikan sebagai berikut.
31
31 no, tuz yang berarti benang atau atumtun yang herarti secara bebas dan matuntuz yang berarti memimpin ;, dalam bahasa Toba pula ada kata pan yang berarti kesopanan, Hormat (Djajediningrat, 1933: 4 tun Hal senada juga disampaikan oleh Rizal (2010: 3) yang menyatakan Pantun sangat populer di wilayah Indonesia, hampir semua daerah yang ada pantun. Di Tapanuli bernama ende -ende, di Jawa bernama Parikan, di Sunda bernama sesindiran. Semua memiliki persyaratan yang sama, yair Bentuk dan persyaratan pantun. "Selanjutnya Fang (1993: 195) menyatakan "dalam bahasa Melayu, pantun berarti quatrain, yaitu sajak yang berbaris empat, dengan sanjaknya seorang bab, termasuk dalam bahasa Sunda pantun sarana cerita panjang yang bersanjak dan diringi oleh musik". Hal yang sama juga disampaikan oleh Arifin, dkk (1986) 20) "Dalam kesusastraan Indonesia, istilah pantun diartika sebagai gubahan yang terdiri atas empat baris; baris pertama dan kedua seb sampiran baris ketiga dan ganda sebagai isi; ber sajak a-b-a-b Wilkinson dan Winstedt (dalam Giazali, 1958: 123) menyatakan bahwa sampiranebutaya pasangan Pertama: pasangan pertama dari garis-garis yang merupakan referensi bagi isinya yang terdapat pada baris dua terakhir. Selanjutnya Djajadiningrat (dalam Gazali, 1958: 123) mengemukakan bahwa sampiran pada pantun pertunjukan game saja, tetapi mengandung tenaga gaib, tenaga animo yang besar. Perhatian yang muncul karena sifat teka-teki yang tersembunyi antara sampiran dan isi yang terdiri dari empat larik berirama, setiap lariknya bia Rapi empat kata. Dua larik pertama yang lazim disebut sam Dalam Ensiklopedia Sastra (2004: 580), pantun adalah jenis puisi lama sanya piran (tumpuan bicara) menjadi petunjuk rimanya, dua larik berikutnya yang mengandung inti atau disebut isi pantun (maksud bicara). Sedangkan Gazali (1958: 123) menyatakn bahwa arti pantun mula-mula adalah umpama. Sepantun maksudnya seumpama Lebih lanjut Gazali mengemukakan hal-hal yang berbeda dari bentuknya, ciri yang utama dalam pantun is sampiran
30
30 Menurut Waluyo (1995: 121), dałam menciptakan puisi, suasana perasaarn penyair ikut dickspresikan dan bisa dapat dihayati oleh pembaca. Untuk mengungkapkan tema yang sarna, penyair yang satu dengan perasaan yang berbeda dari penyair lainnya, namun hasil yang berbeda pula. 4. Amanat Puisiasikan amanat atau pesan atau himbauan yang disampaikan kepada pembaca, Menurut Richard, (Kinayati, 2005: 27), penyair scbagai pemikir dalam menciptakan karyanya, memiliki ketajaman perasaan dan intuisi yang kuat untuk menghayati rahasia kehidupan dan misteri yang ada dalam kehidupan masyarakat. Oleh sebab inu, puisi memiliki makna yang tersembunyi yang harus dibaca oleh pembaca. Menurut Waluyo (1995: 130), bahwa amanat yang ingin disampaikan oleh penyair dapat ditelaah setelah kita memahami ema, rasa dan nada puisi itu. Amanat merupakan hal yang penyair unnik meneiptakan puisinya. Amanat tersirat dibalik kata-kata yang tersusun, dan juga terletak di balik tema yang sempurna. 2.3 Pantun sebagai Puisi lama 2.3.1 Hakikat Pantun Menurut Waluyo (1995: 5), puisi adalah bentuk karya sastra yang lua. Pantun adalah puisi asli Indonesia. Hampir di semua dacrah di Indonesia sudah ada tradisi berpantun. Pantun diangpap sebagai bentuk krama dari kata jawa parik yang berarti pari, artinya paribabasa atau peribahasa dalam bahasa Melayn Arti ini juga berdekatan dengan umpama atau seloka yang berasal dari India. Dr. R. Brandstetter, scorang abli memilih bahasa hangsa Swiss, katakan bahıwa kata pantun Asal dari akar kata tm, yang tersedia dalam berbagai bahasa Nusantara, misalnya dalam bahasa Pampanga, untin yang berarti secara teratur, dalam bahasa Tagalog ada tontonan yang berarti bercakap menurut aturan tertentu; dala
19
19 1) Secara lambang a. Bunga kamboja melambangkan mati b. Delima melambangkan bibir c. Peria (pahit) mclambangkan kekecewaan d. Jeruk asam melambangkan lamaran ditolak e. Anting-anting melambangkan wanita yang masih gadis f. Kelapa muda melambangkan wanita yang pernah bergaul dengan laki-laki (tak bersambut) 2) Kata-kata yang dimasukkan saran bunyi a. Selasih maksudnya kekasih b. Padi atau jadi maksudnya hati c. Antara hati dengan bintang maksudnya antara hati dengan hati 4. Klasifikasi Pantun Pantun dapat merayakan setelah tema, bentuk dan jenis. Oleh entun Berdasarkan Tema oleh Harun Mat Piah (dalam Hadi, Abdul WM, (2008). Pantun Sebagai Cerminan MasyarakatMelayu. [Online. Diakses dari http / melayuonline.com / ind / articleircad / 869 / culture melayuonline.com/a-alZzL29 QTS9VenVWRnRCb20% 3D -) pantun demi tema dibagi menjadi delapan bagian yaitu 1. pantun kanak-kanak 2. pantun cinta dan kasih sayang 3. Pantun adat istiadat dan kebiasaan cara masyarakat 4. Pantun teka-teki. 5. Pantun puji-pujian / sambutan. 6. Pantunwisata dan pendidikan
16
16 3. larik kesatu dan dua disebut sampiran dan fungsinya sebagai pemandan belaka bagi lirik ketiga dan keempat. Larik sampiran ini mengandung tenaga penghimbau bagi pendengar / pcmbaca untuk segera mendengar / membaca larikiga dan keempat. Pada larik ketiga dan kecmpat tersirat makna, tujuan dan tema pantun 4. suku kata setiap larik Terbentuk dari dan 5. memiliki sajak akhir dengan sajak silang Waluyo (1995, hlm. 9) mengatakan pantun adalah salah satu bentuk sastra rakyat yang menyuarakan nilai-nilai dan kritik budaya masyarakat. Pantun adalah puisi asli Indonesia. Dalam hal ini, pantun menjadi sebuah karya yang dapat menjadi wadah bagi penyampaian nilai-nilai dan kriik b masyarakat. Jadi, pantun an karya sastra yang berisi nilai dan budaya a masyarakat. Surana (2001, him. 31), pantun bentuk bentuk lama yang terdiri atas 4 larik sebait berima silang (a b a b). Larik I dan I disebut sampiran, yaitu bagian obyektif. Biasanya berupa lukisan alam atau apa saja yang bisa dianggap sebagai kiasan. Larik II dan IV dinamakan isi yang merupakan bagian subjektif. Sama halnya dengan karmina, setiap larik terdiri atas 4 perkataan. Jumlah suku kata setiap larik antara & - 12. Kamus istilah sastra (2006, hlm. 173) menjelaskan bahwa pantun adalah puisi Indonesia (Melayu), setiap umpan (kupler) biasa terdiri atas empat baris yang bersajak (bab) setiap larik biasanya tenang empat kata, baris pertama dan baris kedua biasanya tumpuan (sampiran) saja dan baris ketiga dan inci merupakan isi; setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata; merupakan peribahasa sindiran; jawab (pada tuduhan dan sebagainya). Pendapat ini pun sesuai dengan pengertian pantun yang tersedia pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008, hlm. 1016), pantun adalah bentuk puisi Indonesia (Melayu), setiap umpan (kuplet) biasanya terdiri atas empat baris yang bersanjak (abab), setiap larik biasanya terdiri atas empat kata, baris pertama dan baris kedua biasanya untuk tumpuan (sampiran) dan baris ketiga
17
17 isi; peribahasa sindiran. Maka, definisi pantun dalam kedua bahasa yang serupa telah disinggung sebelumnya, Sumiyadi dan Durahman (2014, hlm. 12) mengemukakan bahwa pantun adalah puisi lama. Baitnya terdiri atas empat larik dengan rima akhir a-b-a-b. Setiap larik biasanya terdiri atas empat kata atau delapan sampai dengan 12 suku kata dan dengan ketentuan bahwa larik pertama selalu merupakan kiasan atau sampiran, istilah atau isi yang benar dalam larik ketiga dan keempat. Jadi, pendapat ini diungkapkan pada kata-kata yang ditulis pada kamus istilah, ensiklopedia, dan bahasa Inggris yang besar yang berhubungan dengan pantun yang dapat digunakan secara khusus. Pengertian pantun yang dipaparkan olch beberapa pendapat di atas sama-sama pada satu pengertian. Pantun termasuk puisi lama yang terrikat oleh jumlah baris, jumlah suku kata, memiliki rima silang abab, baris kesatu dan kedua adalah sampiran, dan baris ketiga dan tiga merupakan sejarah 3. Sejarah Pantun Menurut Liaw Yock Fang (1993, hlm. 195) pada mulanya pantun adalah senandung atau puisi rakyat yang dinyanyikan. Pantun pertama kali muncul dalam Sejarah Melayu dan hikayat-hikayat populer yang sezaman dan disisipkan dalam syair-syair seperti Syair Ken Tambuhan. Pantuneti sebagai bentuk karma dari kata Jawa Parik yang berarti pari, artinya paribahasa atau peribahasa dalam bahasa Melayu. Arti ini juga berdekatan dengan umpama atau seloka yang berasal dari India. Sejalan dengan pendapat Liaw Fang tersebut, penyebutan pantun itu dapat dipahami sebagai bentuk karya sastra yang dilisankan. Dapat disebut dengan lisan karena pantun diwujudkan dalam bentuk nyanyian. Sementara itu, pengertian sastra lisan menurut Taum (2011, hlm. 20) adalah sebuah bentuk sastra yang dituturkan secara lisan. Oleh sebab itu, pernyataan ini menunjukkan adanya keselaran denga
16
16 3. larik kesatu dan dua disebut sampiran dan fungsinya sebagai pemandan belaka bagi lirik ketiga dan keempat. Larik sampiran ini mengandung tenaga penghimbau bagi pendengar / pcmbaca untuk segera mendengar / membaca larikiga dan keempat. Pada larik ketiga dan kecmpat tersirat makna, tujuan dan tema pantun 4. suku kata setiap larik Terbentuk dari dan 5. memiliki sajak akhir dengan sajak silang Waluyo (1995, hlm. 9) mengatakan pantun adalah salah satu bentuk sastra rakyat yang menyuarakan nilai-nilai dan kritik budaya masyarakat. Pantun adalah puisi asli Indonesia. Dalam hal ini, pantun menjadi sebuah karya yang dapat menjadi wadah bagi penyampaian nilai-nilai dan kriik b masyarakat. Jadi, pantun an karya sastra yang berisi nilai dan budaya a masyarakat. Surana (2001, him. 31), pantun bentuk bentuk lama yang terdiri atas 4 larik sebait berima silang (a b a b). Larik I dan I disebut sampiran, yaitu bagian obyektif. Biasanya berupa lukisan alam atau apa saja yang bisa dianggap sebagai kiasan. Larik II dan IV dinamakan isi yang merupakan bagian subjektif. Sama halnya dengan karmina, setiap larik terdiri atas 4 perkataan. Jumlah suku kata setiap larik antara & - 12. Kamus istilah sastra (2006, hlm. 173) menjelaskan bahwa pantun adalah puisi Indonesia (Melayu), setiap umpan (kupler) biasa terdiri atas empat baris yang bersajak (bab) setiap larik biasanya tenang empat kata, baris pertama dan baris kedua biasanya tumpuan (sampiran) saja dan baris ketiga dan inci merupakan isi; setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata; merupakan peribahasa sindiran; jawab (pada tuduhan dan sebagainya). Pendapat ini pun sesuai dengan pengertian pantun yang tersedia pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008, hlm. 1016), pantun adalah bentuk puisi Indonesia (Melayu), setiap umpan (kuplet) biasanya terdiri atas empat baris yang bersanjak (abab), setiap larik biasanya terdiri atas empat kata, baris pertama dan baris kedua biasanya untuk tumpuan (sampiran) dan baris ketiga
15
15 Sabarti, dkk (1999, dia. 1) mengungkapkan keuntungan dari kegiatan menulis dari: 1) dapat dilewatkan kemampuan dan poteusi yang ada di dalam diri; 2) dapat mengembangkan berbagai gagasan; 3) dapat diperluas, baik teoritis maupun fakta-fakta yang berhubungan; 4) dapat menjclaskan pemasalahan yang semula masih samar bagi diri kita sendiri; 5) dapat membersihkan dan juga tujuan, 6) dapat meningkatkan kemampuan terhadap masalah yang sedang kita gali; 7) dapat mendorong kita belajar akif untuk menjadi penemu dan pemecahan masalah disamping sebagai penyadap informasi orang lain; dan 8) dapat membiasakan diri kita sendiri dan tertib. 2. Pengertian Pantun Beberapa ahli dari ilmu pengetahuan dan menagank hal apa yang berkenaan dengan ketelitian pantun. Alisjahbana (2004, hlm. 11) Menyampaikan bahwa pantun adalah bentuk empat baris bersajak bersilih dua yaitu abab yang masing-masing baris Biasanya terdapat empat perkataan dan isi sampain dan isi yang di isi isi pikiran, nasihat, kebenaran, dan pertanyaan. Pendapat Alisjahbana ini menjelaskan bahwa pantun berbentuk sajak yang memiliki empat baris. Slametmuljana (1949, hlm. 114) mengatakan bahwa pantun terbagi menjadi dua bagian tepat yaitu bagian atas dan bagian bawah. Bagian atas banyak tidak menggunakan atau tidak mengandung bagian yang dijanjikan, yaitu karena orang yang ingin memberikan tanda, yang akan digunakan untuk menyesuaikan dengan baris tersebut. Demikianlah dua baris tersebut hanya saja sajaknya saja untuk menggantungkan maksud. Oleh sebab itu, dua baris pertama disebut sampiran, sedangkan dua baris dari bawah menjadi hak pemantun. Nyoman Tushty Eddy (1991, dia. 145) berpendapat bahwa pantun memiliki beberapa ciri stuktur yang khas sebagai berikut yaitu 1. setiap untai terdiri dari empat baris 2. larik pertama dan kedua tidak ada masalah dengan larik ketiga dan muda: