Selasa, 10 Juli 2018

Sintak 25

25 h) Unsur pengisi Syarat makna pengalam i) Unsur pengisi Sidang makna dikeal j) Unsur pengisi Sentu makna terjumlah Makna kejujuran Benda pertama (Ramlan, 2001, hlm. 108) adalah a) Unsar pengisi Oferensi makna penderita b) Unsur pengisi Oentu makna penerima c) Unsur pengisi Oferensi makna d) Unsur pengisi Oentu makna alat e) Unsur pengisi Oferensi makna hasil Makna tak terkecuali objek (Ramlan, 2001, hlm. 112) adalah a) Unsur pengisi O menyatakan makna penderitaan b) Unsur pengisi Oferensi makna hasil Makna unsur pengisi (Ramlan, 2001, hlm. 113) adalah a) Unsur pengisi PEL menyatakan makna penderitaan 'b) Unsur pengisi Oosional makna alat Makna tidak ada nama keterangan (Ramlan, 2001, llm. 114) adalah: a) Unsur pengisi KEferensi makna 'tempat b) Unsur pengisi KETferensi makna waktu c) Unsur pengisi KETerhana makna cara d) Unsur pengisi KETferensi makna penerima e) Unsur pengisi KET menyntakan makna Peserta f) Unsur pengisi KETferensi makna alat g) Unsur pengist KET menyatalian makna sebab h) Unsur pengisi KETferensi makna i) Unsur pengisi KETferensi makna 'keseringan' j) Unsur pengisi KETferensi makna 'perbandingan k) Unsur pengisi KET menyatakan makna perkecualian tempat 2.6.2 Kata Pilihan (Diksi) Widjono (2005, dia. 87) menjelaskan diksi adalah ketepatan Pemilihan Kata Penggunaan ketepataa Kata-kata ini digunakan oleh kemampran penggunaan bahasa yang berhubungan dengan kemampuan mengetahui,

Sintak 24

24 (Konj), dan pronominal (Pron) berjudul analisis klausa berdasarkan kategori kata atau frase yang menjadi unsunya, adalah sebagai berikut (Ramlan, 2001, dia. 93) NN BilvFD: N: N / VBil: Ket / FDIN PEL KET Keterangan Bil FD Ket Nomina verba Bilangan Frase Depan Keterangan Menggambarkan klausa periode makna-unsumya, mencakup beberapa faktor yang menyatakan makna pada predikat, subjek, objek (objek pertama dan objek kedua), pelengkap, dan l: eterangan. Makna unsur pengisi pada predikat (Ramlan, 2001, hlm. 95) adalah: a) Unsur pengisi Pferensi makna perbuatan b) Unsur pengisi Pferensi makna 'keadaan c) Unsur pengısi Pferensi makna' gerak 'd) Unsur pengisi Pidang makna pengenal e) Unsur pengisi P 'menyatakan makna' jumlah f Unsur pengisi Pemasan makna 'pemerolehain Makna tidak ada batasan subjek (Ramlan, 2001, hlm. 100) adalah: a) Unsur pengisi Sidang makna b) Unsur pengisi Sentu makna alat c) Unsur pengisi Sidang makna 'scbab' d) Unsur pengisi Sferensi makna penderita e) Unsur pengisi Sidang makna hasil 1) Tidak ada pengisi Sidang makna 'tempar g) Unsur pengisi Sidang makna penerima

Sintak 23

Sintak 22

meliputi: formula sintaksis, formula bunyi, formula irama, maias, diksi dan tema. 2.6.1 Sintaksis Sintaksis berasal dari bahasa Belanda yaitu syintaxis, dalam bahasa Inggris kata sintaks kata, sama memiliki arti secara berbarengan. Dalam linguistik, sintaksis berkaitan erat dengan kaidah dan proses pembentukan kalimat (Damaianti, 2005, h. M. 1), Sementara menurut Chaer (2003, him. 206) sintaksis kata dalam kaitan dengan kata lain, aíau tidak-lain disebut-sebut. satuannya. Menurut Ramlan (2005, hlm.18) juga mengemukakan bahwa sintaksis merupakan bagian atau cabang dari bahasa inggris scluk-beluk wacana, kalimat, klausa, dan frasa. Analisis sintaksis untuk mengetahui keberterjawaban kalimat, bukan saja dari kata kerja kalimat, tidak dapat dianalisis bersama-sama dengan kategori peran (makna) kalimat, dan fungsi (Damaianti, 2005, hlm. 3)

Senin, 09 Juli 2018

Pd konteks

31 yang enak didengar dan untuk menyokong makna kata tertentu (Siswantoro, 2010. hlm. 141) 2.7 Penuturan Kontcks merupakan peristiwa yang sangat berhubungan dengan kejadian (KBBI, 2008, hlm. 728). Sedangkan penuturan adalah proses, cara, perbuatan menuturkan, pemberitaan, bicara, uraian tentang hal hal (KBBI, 2008, hlm. 1231) Menurut Sibarani (2012, dia. 322) menjelaskan peranan yang sangat penting dalam kajian tradisional lisan. Pemaknaan teks-teks lingual yang tidak menyebutkan nama-nama lisan lisan sangat tergantung peda konteksnya. Misalnya, sebuah teks inisiatif lisan akan makna yang berbeda, maksud, dan fungsinya tergantung pada referensi konteksnya. Konteks pemilihan itu sangat bergantung pada ragam ungkapan atau teks yang dikaji. Dalam kajian tradisional lisan, konteks budaya. konteks sosial, konteks, dan konteks idiologi perlu dikaji dalam memahami makna, maksud, pesan, dan fungsi tradisi lisan, yang ada diperlukan untuk memahami nilai dan norma yang ada dalam tradisi lisan dan memahami kearifan yang diperlukan untuk menata kehidupen sosial. Koentjaraningrat (1981, dia. 7) mengemukakan bahwa orang-orang yang ada adalah yang universal, yang memungkinkan unsur-unsur budaya yang dapat ditemukan dalam semua hal yang disebut dunia, tidak ada unsur-unsur yang disebut sebagai budaya universal di mana Kouteks penuturan adalah se khusus yang ditandai dengan adanya interaksi di antara unsur-unsur pendukungnya secara khusus yaitu percakapan dengan pembicara dan pendengar atau yang diajak bicara, pertunjukan bertutur, tuijuan bertutur, dan terkait dengan lingkungan dan masyarakat pendukungnya (Rakem, 2008, hlm. 20-21). penuturan dapat dipahami jika masalah dengan konteks dan konteks budaya. Konteks adalah lingkungan atau tempat pemutaran berlangsung. Menunit Halliday dalam Badrun (2003, dia. 38). konteks kerja atau tempat berlangsungnya racun memiliki tiga unsur, yaitu

Pd asonansi

30 tetapi tidak merupakan suku kata yang tetap, hanya menjadi gema dendang sukma penyaimya (Pradapo, 2009, hlm. 40). Irama adalah bunyi yang menghasilkan unsur musikalitas, baik berupa alunan keras-lunak, ringgi-rendah, panjang-pendek, dan kuat yang secara keseluruhan mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana dan nuansa makna tertentu. Menurut Aminuddin timbulnya irama itu selain akibat penatann rima, juga akibat dari eksositif dan intonasi serta tempo sewakfu sebelum pembacaan secara lisan (Aminuddin, 2011, hlm. 137). Dalam penelitian tentang puisi, irama akan diartikan sebagai panjang pendeknya bunyi secara teratur dan bukan merupakan suku kata yang tetap, tidak kreatifitas dari penuturnya Guru sawer). 2.6.7 Asonansi dan Alitrasi Luxemburg (1989, hlm. 91) mengungkapkan bahwa asonansi merupakarn pegulangan bunyi vokal sementara aliterasi pengulangan bunyi konsonan. Hal yang sama juga oleh Keraf (2010, hm. 130) megalakan bahwa asonansi adalah gaya bahasa yang berwujud penulangan bunyi vokal yang sama, sedangkan alitcrasi adalah gaya bahasa yang berwujud pengulangan kosnsonan yang sama Selanjutnya, Preminger (dalam Badrun, 2003, hlm. 29-30) mengatakan bahwa asonansi adalah pengulangan bunyi-bunyi atau suku kata yang sama dalam dua kata atau lebih dalam satu beberapa larik yang menghasilkan efek-efck artistik yang nyata. Aliterasi adalah sesuatu yang dapat menghasilkan atau bunyi yang indah atau tidak sama dengan efek akhir dari Siswantoro (2010, dia. 136) juga mengungkap bahwa aliterasi mencakup dengan pengulangan bunyji konsonan di posisi akhir atau di posisi awal kata. Fungsinya adalah untuk memberikan efek suara yang enak didengar ke dalam bentuk, dan memberikan makna untuk kata di mana bunyi konsonan yang diulang Selanjutuya, asonansi menujuk ke pengulangan bunyi hidup atau vokal. Funesinya adalah untal: menciptakan rangkaian bunyi

Pd rima

29 2.6.5 Rima Menurut Aminuddin (2004, hlm. 137), tima merupakan bunyi yang sempurna atau berulang, baik dalam larik puisi maupun pada akhir larik-larik puisi. Sedangkan menurut Altenbernd dan Leslie L. Lewis (dalam Badrun, 2003, hlm. 28-29) menyeburkan bahwa tima adalah baris-baris sajak yang mengandung rima atau memiliki skema rima jika suku kata terakir dani kata-kata yang menduduki posisi akhir memiliki bunyi yang sama. Akhir kata adalah vokai dari suku kata terakhir yang diberikan dan bunyi-bunyi lain yang mengikutinya. Menurut Pradopo (2009, hlm. 37) rima yang banyak dipergunakan sebagai bagian dalam puisi Indonesia adalah sajak akhir, sajak dalam, sajak tengah, aliterasi, dan asonansi. Kosasih (2003, hlm. 210) rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi. Rima bekerja untuk menampilkan musikalitas atau orkestrasi dengan menggunakan rima maka bunyi makna yang dikehendaki dapat diterima lebih baik dan makna yang ditimbulkan pun semakin kuat. Ritma adalah sebagai pengulangan kata, lasa, atau kalimat dalam umpan-umpan puisi. Rima ada dalam setiap larik dan umpan dalam sebuah sajak Waluyo (1995, dia. 90) mengemukakan bahwa rima adalah pengulangan bunyi dalam bentuk untuk musikalitas atau orkestrasi. Dengan pengulangan bunyi itu maka puisi menjadi merdu kita dibaca. Penilaian bunyi-bunyi akan mendukung perasaan dan suasana. 2.6.6 Irama Sawér merupakan kunci yang dituturkan dengan cara dinyanyikan atau ditembangkan. Atas dasar itu, dalam penelitian ini perlu analisis fornula iramanya. Irama menurut Pradopo (2009, hlm. 40) adalah pergantian turun panjang pendek, keras hati ucapan bumyi bahasa dengan teratur. Pradopo juga membagi irama menjadi dua macam, yaitu metrum dan rime. Metruma adalah irama yang tetap, artinya pergantiannya sudah letap menurut pola tertentu. Hal itu merupakan kata-kata yang digunakan untuk kata-kata yang masih ada dan yang tetap saja. Ritme adalah trama yang discbabkan pertentangan dan pergamtian bunyi tinggi rendalh secara teratur,