18 konsep pantun yang dijelaskan oleh Liaw Yock Fang, yaitu pantun merupakan puisi rakyat yang dinyanyikan atau sama dipesan dengan dilisankan. Dr. R. Brandstetter, seorang ahli bahasa apa yang berasal dari Swiss, mengatakan bahwa kata pantun berasal dari akar kata tun, yang tersedia dalam bahasa Indonesia, misalnya dalam bahasa Pampanga, tuntun yang berarti teratur, dalam bahasa Tagalog ada tonton yang bermakna bercakap menurut aturan tertentu; dalam bahasa Jawa kuno, tuntun yang berarti benang atau atuniun yang bermakna dan matuntun yang bermakna memimpin; dalam bahasa Toba pula ada kata pantun yang berarti kesopanan, kehormatan. Berbeda dengan penemuan Van Ophuysen dalam Hamidy (1983, him. 69) konteks pantun itu berasal dari bahasa daun-daun, setelah dia melihat Ende-ende Mandailing dengan mempergunakan daun-daun untuk menulis surat-menyurat dalam percintaan. Orang-orang Melayu di Sibolga diajar untuk memberi makan ikan belanak kepada mereka, dengan harapan agar acara itu beranak Temuan dani Van Ophyusen berbuka RJ Wilkinson dan R. O Winsted dalam Hamidy (1983, hlm. 69) dengan menyebutkan asal mula pantun seperti dugnan Ophuysen itu. Dalam bukunya "Sastra Melayu" pertarma terbit tahun 1907, Wilkinson malah balik bertanya, tidakkah hal itu harus dianggap? "" Jadi bukan pantun yang berasal dari bahasa daun-daun, tetapi bahasa daun-daunlah yang berasal dari pantun. Hipotesis Ophusyen tentang bahasa daun yang digunakan untuk kata-kata pemuda dan pemudi di Batak di atas mendapat apresiasi dari Dr. C Hooykaas Menurut dia, keadaan seperti itu menunjukkan bahwa dalam perjalanan kehidupen pantun, pergelaran lambang-lambang untuk perumulan makna selalu disisipkan. , ia menyampaikan contoh antara hadimya lambang itu dengan "kuatmya" kegemaran masyarakat dalam berpantun. Beberapa contoh disampaikan sebagai berikut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar