h) rima bersilang (rima salib), yaitu rangkan letak rimanya berselang-seling. baris pertama berima dengan baris ketiga dan baris kedua berima dengan baris emp; i) rima rangkai, yaitu mantra kata-kata yang berima terdepat pada kalimat yang beruntun rima kembar, yaitu kalimat yang beruntun dua-dua berima sama: k) rima patah, yaitu perkataan dalam umpan puisi ada kat-kata yang tidak berima; l) rima rupa, rima napa hanya ada pada puisi-puisi Melayu klasik yang ditulis dengan bahasa Arab Melayu. Tulisan (bentuknya) tampak sama, tapi bunyinya berbeda. Misalnya tulisan kata ramai dan rami sama saja, begitu juga misalnya kata lampau dan lampu. Dari pernyataaan di atas dapat disimpulkan itu rima adalah persamaan bunyi yang ada dalam pantun, baik dalam satu larik atau antar larik dan dengan ucapan yang indah. Rima secara umum dibagi atas dua bagian, yaitu berdasarkan bunyi dan berdasarkan etisan di dalam pantun 2.1.1.3 Sampiran dan Isi Pantun Salah satu ciri khas yang tanda pantun adalah adanya dua larik pertama yang disebut sampiran dan dua larik kedua yang disebut isi, hubungan sampiran dan isi sering kali tidak ada yang suka ditinjau dari sudut semantik. Tentu demikian, sampailah sampiran tidak pula-merta lahir begitu saja, sebagai pemanis bunyi. pelaut mungkin merupakan simbolisasi dari proses berpikir si pemantun. Hal ini sependapat dengan Rosidi (2008: 5) yang menyatakan tidak sering ada hubungan apa-apa antara bagian sampiran dengan isi, kecuali persamaan; larik pertama bunyi akhir dengan larik ketiga. larik yang kedua berbunyi akhir sama dengan larik kum. Dan kalau lebih dari empat larik, maka larik ketiga berbunyi akhir sama dengan yang keenam, dan larik yang terjemahnya sama dengan larik kedelapan, dan seterusnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar