13 Pantun menunjukkan adanya ikatan yang kuat dalam struktur kebahasaan atau tipografi atau struktur fisiknya. Untuk struktur tematik atau struktur makna dijelaskan menurut aturan jenis pantun. Struktur kebahasaan jumlah: (1) kata setiap baris; (2) jumlah baris setiap umpan; (3) aturan dalam rima dan ritma (Waluyo, 1991: 8) Pantun yang baik harus memiliki syarat-syarat pantun. Syarat-syarat pantun yang baik ini adalah sebagai berikut: l) terdiri atas empat baris; 2) tiap baris terdiri atas 8 sampai 10 suku kata: 3) dua baris pertama disebut sampirn. Isi dua baris pertama alam dan sebagainya Dua baris berikutnya mengandung isi yang ingin disampaikan 4) pantun mementingkan rima akhir. Rumus akhirnya adalah a-b-a-b, yang disebut juga abjad, maksudnya, akhir baris pertama sama dengan akhir baris ketiga, baris kedua sama dengan baris empu (Badudu, 1984: 8-11). Sehubungan dengan sajak pantun agni 2008: 6) mengatakan "sebuah pantun yang baik punya sajak a-b-a-b. Bila ada pantun yang tidak bersajak a-b-a-b pantun ini sih pantun yang baik." Selanjutnya Ghazali (1958: 129) menyatakan tentang sajak a-b-a-b, itu tidak ciri yang mutlak untuk suatu pantun, karena ada juga pantun yang bersajak sama-sama: a-a-a, seperti yang ada pada syair. Ciri yang menilainya sampiran, karena tidak ada ada pada bentuk puisi lama yang lain. Menurut Effendy (1983: 28), syarat-persyaratan dalam pantun adalah: tiap bait terdiri dari empat baris 2) setiap baris terdiri dari empat atau lima kata atau terdiri dari delapan atau sepuluh suku kata; 3) sajaknya bersilih dua-dua: a-to-a-b. bisa juga jak a-a-a-sajaknya bisa menjadi sajak paruh atau sajak penuh;
Tidak ada komentar:
Posting Komentar