Rabu, 06 Desember 2017

Hal 13

13 Pantun menunjukkan adanya ikatan yang kuat dalam struktur kebahasaan atau tipografi atau struktur fisiknya. Untuk struktur tematik atau struktur makna dijelaskan menurut aturan jenis pantun. Struktur kebahasaan jumlah: (1) kata setiap baris; (2) jumlah baris setiap umpan; (3) aturan dalam rima dan ritma (Waluyo, 1991: 8) Pantun yang baik harus memiliki syarat-syarat pantun. Syarat-syarat pantun yang baik ini adalah sebagai berikut: l) terdiri atas empat baris; 2) tiap baris terdiri atas 8 sampai 10 suku kata: 3) dua baris pertama disebut sampirn. Isi dua baris pertama alam dan sebagainya Dua baris berikutnya mengandung isi yang ingin disampaikan 4) pantun mementingkan rima akhir. Rumus akhirnya adalah a-b-a-b, yang disebut juga abjad, maksudnya, akhir baris pertama sama dengan akhir baris ketiga, baris kedua sama dengan baris empu (Badudu, 1984: 8-11). Sehubungan dengan sajak pantun agni 2008: 6) mengatakan "sebuah pantun yang baik punya sajak a-b-a-b. Bila ada pantun yang tidak bersajak a-b-a-b pantun ini sih pantun yang baik." Selanjutnya Ghazali (1958: 129) menyatakan tentang sajak a-b-a-b, itu tidak ciri yang mutlak untuk suatu pantun, karena ada juga pantun yang bersajak sama-sama: a-a-a, seperti yang ada pada syair. Ciri yang menilainya sampiran, karena tidak ada ada pada bentuk puisi lama yang lain. Menurut Effendy (1983: 28), syarat-persyaratan dalam pantun adalah: tiap bait terdiri dari empat baris 2) setiap baris terdiri dari empat atau lima kata atau terdiri dari delapan atau sepuluh suku kata; 3) sajaknya bersilih dua-dua: a-to-a-b. bisa juga jak a-a-a-sajaknya bisa menjadi sajak paruh atau sajak penuh;

Tidak ada komentar:

Posting Komentar